Suara ketukan pelan di pintu kamar membangunkanku sebelum alarm berbunyi. Seperti biasa, Ibu tidak pernah mengetuk terlalu keras. Selalu pelan, seolah takut mengagetkanku.
“Bangun, Nak. Subuh.”
Suaranya lembut dari balik pintu.
Aku membuka mata perlahan. Kamar masih gelap. Hanya ada sedikit cahaya dari sela jendela yang tertutup tirai tipis. Aku meraba ponsel di samping bantal dan melihat layar.
04.18
Aku menatap angka itu beberapa detik sambil mencoba mengumpulkan kesadaran. Badanku masih terasa lelah. Mungkin karena semalam tidur terlalu larut. Tapi entah kenapa, setelah percakapan singkatku dengan Allah di atas sajadah semalam, ada bagian kecil dalam diriku yang tidak ingin kembali menunda.
“Iya, Bu...” jawabku dengan suara serak.
Aku duduk pelan di tepi kasur.
Ruangan masih dingin. Kipas angin sudah kumatikan sebelum tidur, tapi udara dini hari tetap membuat kulit terasa menggigil. Aku menatap sajadah yang semalam masih terbentang sebelum akhirnya kulipat rapi. Entah kenapa, melihatnya pagi itu terasa sedikit berbeda.
Ada rasa malu yang masih tersisa. Tapi bersamaan dengan itu, ada juga rasa ingin memulai lagi.
Aku mengambil handuk kecil, lalu berjalan ke kamar mandi.
Air wudu menyentuh wajahku dan seketika membuat sisa kantuk runtuh sedikit demi sedikit. Dinginnya menusuk, tapi justru itu yang membuat pikiranku terasa lebih sadar. Aku menatap bayanganku sendiri di cermin kecil dekat wastafel.
Mata sembap. Rambut acak-acakan. Wajah lelah.
Wajah seseorang yang sedang berusaha terlihat kuat, padahal diam-diam sedang capek sekali.
Aku mengembuskan napas pelan.
Lalu kembali ke kamar, mengenakan sarung, dan bersiap ke masjid.
Sudah lama sekali aku tidak benar-benar antusias berangkat salat Subuh berjamaah. Bukan karena aku tidak tahu keutamaannya. Aku tahu. Sejak kecil aku dibesarkan di rumah yang cukup menjaga itu. Tapi entah sejak kapan, semangatku untuk hal-hal yang seharusnya sederhana justru kalah oleh rasa malas, tidur, dan pikiran-pikiran dunia yang tidak pernah selesai.
Aku keluar kamar pelan.
Lampu ruang tengah masih menyala redup. Ibu sedang duduk di ruang tamu dengan mukena putihnya, menunggu waktu iqamah sambil memegang tasbih kecil. Wajahnya terlihat tenang. Selalu begitu. Entah bagaimana caranya, Ibu selalu tampak punya ruang damai yang tidak bisa dijangkau kegaduhan apa pun.
Saat melihatku keluar kamar, beliau menoleh dan tersenyum kecil.
“Berangkat, Nak?”
Aku mengangguk.
“Iya, Bu.”
“Ati-ati. Jalan masih dingin.”
Aku hanya tersenyum tipis.
Kalimat sesederhana itu kadang terdengar biasa saja. Tapi pagi itu, aku merasakannya lebih dalam. Ada cinta yang tidak banyak bicara, tapi selalu hadir dalam bentuk-bentuk paling sederhana.
Aku keluar rumah.
Udara subuh langsung menyambutku. Dingin, lembap, dan tenang. Langit masih gelap kebiruan. Beberapa rumah di sekitar masih tertutup rapat. Jalanan kecil di depan rumah belum ramai. Hanya sesekali terdengar suara sandal orang-orang yang berjalan ke arah masjid.
Aku melangkah pelan.
Masjid kampungku tidak jauh. Dari rumah, cukup berjalan beberapa menit. Bangunannya tidak besar, tapi sejak kecil tempat itu selalu terasa akrab bagiku. Dindingnya sederhana. Cat hijaunya mulai pudar di beberapa sudut. Lampunya tidak terlalu terang. Karpetnya pun bukan yang paling tebal. Tapi entah kenapa, ada rasa yang tidak bisa dijelaskan setiap kali aku masuk ke sana saat hati sedang penuh.
Seperti ada sesuatu di dalamnya yang selalu bisa menampung lelah.
Aku masuk dan menaruh sandal di rak.
Suara lantunan Al-Qur’an dari pengeras suara kecil terdengar pelan. Beberapa jamaah sudah duduk sambil berdzikir. Beberapa yang lain baru datang, merapikan sarung, lalu duduk menunggu iqamah. Aku mengambil saf di barisan tengah, lalu duduk bersila sambil menunduk.
Dingin karpet menembus kulit kakiku.
Aku menarik napas pelan.
Sudah lama sekali aku tidak duduk seperti ini dengan hati yang benar-benar sadar bahwa aku sedang berada di rumah Allah.
Biasanya aku datang, salat, lalu pulang.
Cepat. Buru-buru. Seperti semua hal lain dalam hidupku.
Tapi pagi itu aku memilih diam sedikit lebih lama.
Dan anehnya, justru di dalam diam itu aku mulai mendengar sesuatu yang selama ini tenggelam oleh bising pikiranku sendiri.
Kelelahan.
Tekanan.
Ketakutan.
Dan satu pertanyaan yang masih tersisa dari semalam:
Sebenarnya, aku ini sedang mengejar apa?
Tak lama kemudian, iqamah dikumandangkan.
Kami berdiri.
Salat dimulai.
Aku mencoba lebih pelan. Lebih hadir. Lebih sadar. Tidak sempurna, tentu saja. Pikiranku masih sempat berlari ke mana-mana. Tapi setidaknya pagi itu aku tidak ingin salat hanya sebagai gerakan yang lewat.
Aku ingin benar-benar datang.
Setelah salam terakhir, aku tetap duduk cukup lama.
Beberapa jamaah mulai berdzikir. Ada yang melipat sajadah kecil. Ada yang beranjak pulang karena harus bersiap bekerja. Udara di dalam masjid masih dingin. Lampu-lampu tetap menyala temaram.
Aku menunduk, memandangi kedua tanganku sendiri.
Aku tidak tahu kenapa, tapi pagi itu ada rasa sesak yang tiba-tiba naik lagi.
Mungkin karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku benar-benar membiarkan diriku diam.
Dan saat seseorang benar-benar diam, kadang yang muncul bukan ketenangan dulu—tapi semua hal yang selama ini ditahan.
Aku merasa lelah.
Bukan cuma lelah karena tugas, target, atau kurang tidur.
Tapi lelah karena terlalu sering merasa harus jadi lebih dari diriku yang sekarang.
Lelah karena terlalu sering merasa belum cukup.
Lelah karena diam-diam selalu takut tertinggal.
Aku menunduk lebih dalam.
Dalam hati, aku berbisik pelan:
Ya Allah, aku pengin hidupku lebih baik...
tapi kenapa hatiku malah makin berat?
Doa itu melintas begitu saja. Tidak panjang. Tidak rapi. Tapi jujur.
Dan mungkin memang hanya itu yang bisa kubawa pagi itu: kejujuran yang sederhana.
Sepulang dari masjid, rumah mulai sedikit hidup.
Suara piring dari dapur terdengar pelan. Aroma bawang yang ditumis tipis-tipis mulai menyebar ke ruang tengah. Aku menaruh sarung di kamar lalu kembali ke dapur.
Ibu sedang memasak sambil sesekali meniup uap dari panci kecil di depannya. Kerudung rumahnya dililit sederhana. Wajahnya masih terlihat segar meskipun aku tahu beliau selalu tidur paling akhir dan bangun paling awal.
“Sudah salat?” tanyanya sambil tetap fokus mengaduk.
Aku mengangguk.
“Sudah.”
“Alhamdulillah.”
Hanya satu kata itu.
Tapi entah kenapa, kata sederhana dari Ibu selalu terasa seperti doa.
Aku duduk di kursi kecil dekat meja makan.
“Ibu masak apa?”
“Tempe sama sayur bening. Mau telur sekalian?”
Aku mengangguk kecil. “Mau.”
Ibu tersenyum tipis. “Tunggu bentar.”
Aku memandang beliau beberapa saat tanpa bicara.
Tangan Ibu terus bekerja dengan gerakan yang tenang dan terlatih. Ada sesuatu dalam cara beliau menjalani hal-hal kecil yang selalu membuatku berpikir: bagaimana bisa seseorang terlihat sesederhana ini, tapi tetap kuat menjalani begitu banyak hal?
Padahal aku tahu hidup beliau tidak ringan.
Beliau jarang mengeluh. Jarang bicara banyak soal capek. Tapi aku cukup dewasa untuk tahu bahwa rumah ini tetap berdiri bukan karena keadaan kami mudah, melainkan karena banyak doa dan banyak sabar yang tidak selalu terlihat.
“Ibu...” panggilku pelan.
“Hm?”
Aku ragu sejenak.
“Kalau... kita capek banget sama hidup, itu wajar nggak sih?”
Tangan Ibu berhenti sesaat. Lalu beliau menoleh ke arahku.
Tatapannya lembut. Sangat lembut.
“Capek itu wajar, Nak.”
Aku menunduk.
“Kadang aku ngerasa... semua orang jalan terus. Sementara aku kayak gini-gini aja.”
Ibu diam sebentar, lalu mematikan api kompor kecil.
Beliau mendekat, duduk di kursi depanku, lalu menatap wajahku lebih serius.
“Kamu lagi banyak pikiran, ya?”
Aku tersenyum kecil, tapi gagal terlihat meyakinkan.
“Sedikit.”
Ibu justru ikut tersenyum tipis. Seperti tahu bahwa “sedikit” yang kumaksud sebenarnya banyak sekali.
Beliau mengusap punggung tanganku pelan.
“Nak, dengar ya...”
Aku menatap beliau.
“Tidak semua orang yang kelihatan cepat itu benar-benar tenang.”
Aku diam.
Ibu melanjutkan, suaranya pelan, tapi setiap katanya terasa masuk jauh.
“Kadang kita lihat hidup orang lain bagus, lancar, kelihatannya berhasil. Tapi kita nggak pernah benar-benar tahu apa yang mereka tanggung, apa yang mereka tangisi, dan apa yang mereka minta dalam sujudnya.”
Dadaku terasa hangat sekaligus sesak.
“Jangan terlalu sibuk lihat langkah orang lain sampai lupa mensyukuri jalan yang Allah kasih ke kamu.”
Aku menunduk.
Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa, rasanya seperti menampar sesuatu yang selama ini kubiarkan tumbuh diam-diam di dalam hati: rasa iri yang dibungkus ambisi.
Ibu berdiri lagi, lalu kembali ke kompor.
“Kalau capek, istirahat. Kalau bingung, doa. Kalau takut, dekat sama Allah. Jangan semua ditanggung sendiri.”
Aku memandangi punggung beliau cukup lama.
Mungkin itulah yang sering kulupa.
Aku terlalu sering mengandalkan diriku sendiri. Terlalu sering merasa semua harus kuselesaikan dengan kepalaku, tenagaku, strategiku. Sampai kadang aku lupa bahwa aku ini cuma hamba. Bahwa ada hal-hal yang memang tidak akan selesai hanya dengan dipikirkan terus-menerus.
Ada hal-hal yang perlu diserahkan.
Ada hal-hal yang perlu didoakan.
Ada hal-hal yang tidak akan tenang sebelum dibawa pulang kepada Allah.
Setelah sarapan, aku kembali ke kamar.
Sinar matahari pagi mulai masuk dari sela jendela. Kamar yang semalam terasa berat sekarang sedikit lebih hidup. Tapi tetap saja, begitu aku duduk di kursi dan menyalakan laptop, rasa itu datang lagi.
Tekanan.
Aku membuka dokumen proposal. Lalu membuka folder tugas. Lalu membuka catatan target. Lalu menatap semuanya bergantian seperti seseorang yang ingin bergerak, tapi tidak tahu harus memulai dari mana.
Dadaku mulai tidak nyaman lagi.
Aku tahu aku punya banyak mimpi.
Aku tahu aku ingin jadi anak yang bisa membanggakan orang tua.
Aku tahu aku ingin berhasil.
Tapi kenapa akhir-akhir ini semua mimpi itu tidak terasa seperti harapan, melainkan seperti beban yang menempel di dada?
Aku membuka media sosial sebentar.
Kesalahan.
Salah satu temanku mengunggah foto kegiatan seminar. Yang lain membagikan progres bisnis kecilnya. Ada yang menulis tentang target hidup. Ada yang sedang ikut pelatihan. Ada yang sedang memamerkan pencapaian dengan caption penuh syukur.
Dan aku?
Aku menatap layar itu sambil merasa makin kecil.
Aku buru-buru menutup aplikasinya.
Lalu menjatuhkan tubuh ke sandaran kursi.
Ya Allah...
Kenapa aku mudah sekali goyah hanya karena melihat hidup orang lain?
Kenapa hatiku gampang sekali merasa tertinggal?
Kenapa aku sulit sekali merasa cukup dengan prosesku sendiri?
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
Di balik telapak tanganku yang menempel di wajah, aku sadar akan satu hal yang pahit:
Aku tidak hanya sedang berjuang mengejar mimpi.
Aku juga sedang berjuang melawan tekanan yang aku bangun sendiri.
Tekanan untuk cepat berhasil.
Tekanan untuk terlihat berkembang.
Tekanan untuk jadi “seseorang”.
Tekanan untuk membuktikan bahwa aku bisa.
Dan semakin kupikirkan, semakin aku sadar...
sebagian besar dari semua tekanan itu tidak datang dari siapa-siapa.
Ia datang dari diriku sendiri.
Dari ekspektasi yang kutumpuk terlalu tinggi.
Dari standar yang kubuat terlalu keras.
Dari ketakutan yang kubiarkan tumbuh tanpa pernah benar-benar kuobati.
Aku duduk diam cukup lama.
Sampai akhirnya mataku jatuh ke mushaf kecil di sudut meja.
Mushaf itu sudah ada di sana cukup lama. Biasanya kubaca setelah magrib atau saat hati sedang sangat kacau. Belakangan ini, aku lebih sering melewatinya sambil berkata, nanti saja kalau agak longgar.
Padahal hidup tidak pernah benar-benar longgar.
Mungkin akulah yang terlalu sibuk memberi ruang untuk semuanya, kecuali untuk Allah.
Aku meraih mushaf itu pelan.
Lalu membukanya secara acak.
Mataku jatuh pada satu ayat yang sangat sering kudengar sejak kecil, tapi entah kenapa pagi itu terasa berbeda:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Aku membaca ayat itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Dan entah kenapa, tiba-tiba mataku terasa panas.
Mungkin karena aku terlalu sering memaksa hidup berjalan sesuai keinginanku.
Terlalu sering marah ketika sesuatu tidak datang secepat yang kuharap.
Terlalu sering menganggap keterlambatan sebagai kegagalan, padahal bisa jadi itu adalah penjagaan.
Aku menutup mushaf perlahan.
Lalu menunduk sambil berbisik sangat pelan:
“Ya Allah... kalau langkahku selama ini terlalu dipenuhi ambisiku sendiri, tolong jangan biarkan aku jauh dari-Mu.”
Suasana kamar mendadak terasa sunyi.
Tapi untuk pertama kalinya pagi itu, sunyi itu tidak terlalu menakutkan.
Mungkin karena di tengah segala tekanan, aku mulai sadar satu hal kecil:
aku tidak harus menyelesaikan seluruh hidupku hari ini.
Aku tidak harus lebih cepat dari semua orang.
Aku tidak harus terlihat hebat setiap waktu.
Mungkin untuk sekarang, yang benar-benar kubutuhkan bukan berlari lebih kencang.
Tapi belajar berjalan dengan hati yang lebih tenang.
Dan mungkin, ketenangan itu tidak akan pernah benar-benar datang sebelum aku belajar menyerahkan sebagian bebanku kepada Allah.
Aku memandang lagi laptop di hadapanku.
Tugas-tugas itu masih ada. Target-target itu juga belum hilang. Tekanan hidupku tidak mendadak selesai hanya karena satu pagi yang lebih hening.
Tapi setidaknya, pagi itu aku mulai mengerti satu hal:
kadang yang membuat langkah terasa berat bukan karena jalannya terlalu jauh—
melainkan karena hati kita terlalu sibuk membawa beban yang seharusnya kita letakkan di hadapan Allah.
.png)




0 komentar:
Post a Comment