adsbygoogle.js'/> Sibuk, Tapi Tidak Bertumbuh | Tulisan Khozin_99
Home » » Sibuk, Tapi Tidak Bertumbuh

Sibuk, Tapi Tidak Bertumbuh

Written By Khozin_99 on Thursday, 9 April 2026 | 4/09/2026 07:48:00 am




Kalau dilihat dari luar, hidupku sebenarnya tidak terlihat buruk-buruk amat.

Aku bangun pagi.
Aku punya target.
Aku punya kegiatan.
Aku punya banyak hal yang sedang kucoba.

Kalau ada orang yang melihat hariku dari jauh, mungkin mereka akan bilang aku anak yang produktif. Sibuk. Punya arah. Punya semangat. Punya keinginan untuk maju.

Dan mungkin, di beberapa hari tertentu, aku juga pernah percaya itu.

Tapi hanya aku yang tahu bagaimana rasanya menjalani semuanya dari dalam.

Capek.
Penuh.
Tapi anehnya... kosong.

Hari-hariku akhir-akhir ini dipenuhi banyak hal. Terlalu banyak, malah.

Pagi biasanya dimulai dengan niat yang cukup baik. Setelah Subuh, aku sering berjanji pada diriku sendiri bahwa hari ini akan lebih rapi. Lebih fokus. Lebih terarah. Aku akan mengerjakan yang penting dulu. Tidak akan terlalu banyak buka ponsel. Tidak akan menunda. Tidak akan kebanyakan mikir.

Tapi entah kenapa, niat-niat baik itu sering kalah sebelum siang.

Aku bisa duduk di depan laptop hampir dua jam, tapi isinya justru pindah dari satu tab ke tab lain. Dari proposal ke video. Dari tugas ke ide usaha. Dari catatan target ke media sosial. Dari niat belajar ke scrolling yang katanya “cuma lima menit”, tapi tahu-tahu habis hampir satu jam.

Dan yang paling menyebalkan, setelah semua itu, aku tetap merasa lelah. Padahal kalau dipikir-pikir, apa yang benar-benar selesai?

Hampir tidak ada.

Hari itu, seperti biasa, aku duduk di meja belajarku sejak pagi.

Laptop terbuka.
Buku catatan terbuka.
Pena di tangan.
Daftar target ada di depan mata.

Semua terlihat seperti permulaan yang bagus.

Aku sempat menulis beberapa poin untuk proposal. Setelah itu pindah ke folder desain karena tiba-tiba teringat aku juga harus belajar itu. Lima belas menit kemudian, aku merasa otakku terlalu berat untuk mikir desain, jadi aku membuka video motivasi “biar semangat lagi”. Dari video itu aku malah pindah ke akun orang yang membahas produktivitas. Lalu entah bagaimana, ujung-ujungnya aku justru melihat hidup orang lain lagi.

Dan seperti biasa, setelah itu suasana hatiku rusak pelan-pelan.

Aku menutup laptop sedikit lebih keras dari yang seharusnya.

Suara tutupannya membuat kamar terasa makin sepi.

Aku menyandarkan tubuh ke kursi sambil menatap langit-langit. Rasanya aku seperti orang yang bergerak terus, tapi berputar di tempat yang sama.

Aku sibuk.

Tapi tidak benar-benar maju.

Aku berusaha.

Tapi tidak benar-benar bertumbuh.

Dan semakin hari, kesadaran itu makin menggangguku.

Ponselku bergetar di atas meja.

Pesan dari salah satu teman masuk.

Daffa:
Bro, jadi ikut pertemuan nanti sore? Bahas proyek kemarin.

Aku menatap chat itu beberapa detik.

Daffa adalah salah satu temanku yang, jujur saja, sering membuatku merasa tertinggal tanpa dia harus melakukan apa-apa. Dia bukan orang yang sombong. Bukan juga tipe yang suka pamer terang-terangan. Tapi hidupnya terlihat bergerak terus. Selalu ada yang dia kerjakan. Selalu ada pencapaian baru. Selalu ada langkah yang jelas.

Dan aku sering diam-diam membandingkan diriku dengannya.

Aku mengetik balasan pelan.

Aku:
InsyaAllah ikut.

Beberapa detik kemudian, balasan masuk lagi.

Daffa:
Jangan telat. Banyak yang mau dibahas. Kalau ini jalan, lumayan banget buat ke depan.

Aku membaca kalimat itu sambil mengembuskan napas pelan.

Lumayan banget buat ke depan.

Kalimat seperti itu sekarang terasa seperti pemicu sekaligus tekanan. Karena setiap kali ada peluang, aku selalu merasa harus ikut. Harus masuk. Harus ambil bagian. Harus bergerak. Seolah kalau aku melewatkan satu kesempatan, maka aku sedang membiarkan hidupku kalah dari orang lain.

Padahal aku tahu tidak semua hal harus kuambil.

Tapi masalahnya, aku belum cukup tenang untuk membedakan mana yang benar-benar perlu dan mana yang hanya terlihat menarik sesaat.

Aku meletakkan ponsel lalu kembali menatap daftar target di depanku.

Proposal lomba.
Belajar desain.
Proyek kecil dengan Daffa.
Target hafalan.
Membaca buku.
Merapikan jadwal hidup.
Meningkatkan ibadah.
Mencari peluang baru.

Aku membaca semuanya satu per satu.

Lalu tiba-tiba satu pertanyaan muncul di kepalaku:

Apa aku benar-benar sedang membangun hidup... atau cuma sedang takut terlihat diam?

Pertanyaan itu membuatku diam cukup lama.

Karena kalau aku jujur, mungkin memang ada banyak hal yang kulakukan bukan karena benar-benar penting, tapi karena aku takut kalau aku tidak terlihat bergerak, berarti aku sedang tertinggal.

Aku takut terlihat biasa-biasa saja.

Aku takut terlihat lambat.

Aku takut kalau orang lain melangkah lebih jauh, sementara aku masih berkutat dengan diriku sendiri.

Dan ketakutan itu diam-diam mendorongku untuk terus mengambil banyak hal, sampai aku sendiri tidak punya ruang untuk bernapas.


---

Menjelang siang, aku keluar kamar untuk mengambil minum.

Rumah sedang tenang. Ayah sudah berangkat sejak pagi. Ibu ada di ruang tengah sambil melipat pakaian. Televisi menyala kecil, tapi volumenya sangat pelan. Hanya jadi teman suasana.

Aku mengambil gelas, lalu menuang air dari dispenser.

“Dari tadi di kamar terus?” tanya Ibu tanpa mengangkat kepala.

“Iya.”

“Sudah makan buah yang Ibu taruh di meja?”

Aku menoleh ke meja makan. Ada potongan pepaya di piring kecil yang rupanya sudah disiapkan.

“Belum.”

“Dimakan dulu. Jangan kopi terus.”

Aku tersenyum tipis.

“Iya, Bu.”

Aku duduk di kursi dekat Ibu sambil mengambil satu potong pepaya. Beliau masih melipat pakaian dengan gerakan yang tenang. Selalu ada sesuatu dalam cara Ibu melakukan pekerjaan rumah yang membuat semuanya terlihat sederhana. Rapi. Tidak terburu-buru.

Aku memperhatikan beliau cukup lama sampai akhirnya beliau menoleh.

“Kenapa?”

Aku menggeleng.

“Nggak.”

Ibu tersenyum kecil. “Kalau ada yang dipikirin, ngomong aja. Jangan semua ditaruh di kepala.”

Aku menunduk sambil memutar gelas di tanganku.

Kadang aku ingin bercerita semuanya. Tentang capek. Tentang takut. Tentang rasa tertinggal yang semakin sering datang. Tapi selalu ada bagian dari diriku yang merasa malu.

Malu karena aku belum benar-benar membawa hasil apa-apa, tapi sudah sering merasa lelah.

Malu karena aku masih banyak ditopang orang tua, tapi di dalam hati sering gelisah sendiri.

Malu karena aku tahu Allah sudah memberiku banyak hal untuk disyukuri, tapi aku masih sering sibuk memikirkan apa yang belum kumiliki.

“Ibu...” panggilku pelan.

“Hm?”

“Kalau... kita udah berusaha, tapi tetap ngerasa nggak maju-maju, itu kenapa ya?”

Tangan Ibu berhenti sejenak.

Beliau menatapku beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Karena belum tentu semua yang kita sebut usaha itu benar-benar langkah yang tepat.”

Aku diam.

Ibu meletakkan baju yang sedang dilipat di pangkuannya.

“Nak, capek itu nggak selalu berarti kamu sudah berjalan di jalan yang benar.”

Kalimat itu membuatku menatap beliau lebih serius.

Beliau melanjutkan, suaranya pelan, tapi jelas.

“Kadang orang capek bukan karena jalannya berat, tapi karena dia bawa terlalu banyak hal yang seharusnya nggak perlu dibawa.”

Aku tidak langsung menjawab.

Ada sesuatu dalam kalimat itu yang terasa menancap.

Karena mungkin memang itu yang sedang terjadi padaku.

Aku terlalu banyak membawa hal.

Terlalu banyak target.
Terlalu banyak keinginan.
Terlalu banyak perbandingan.
Terlalu banyak tekanan.

Sampai-sampai aku tidak lagi tahu mana yang benar-benar penting dan mana yang hanya kupelihara karena ego.

Ibu mengusap lenganku pelan.

“Kalau kamu ngerasa penuh terus, coba tanya ke diri sendiri... yang kamu kejar itu semuanya memang karena Allah, atau karena kamu takut kalah dari orang lain?”

Aku langsung menunduk.

Pertanyaan itu terlalu tepat.

Dan mungkin karena terlalu tepat, ia juga terasa sedikit menyakitkan.

Sebab kalau aku jujur, aku tahu jawabannya tidak sepenuhnya bersih.

Ada banyak hal yang kuinginkan karena aku ingin membahagiakan orang tua. Itu benar.

Ada banyak mimpi yang kupegang karena aku ingin jadi lebih baik. Itu juga benar.

Tapi di balik semua itu, ada juga bagian gelap yang selama ini sering kusembunyikan bahkan dari diriku sendiri:

Aku ingin diakui.

Aku ingin terlihat berhasil.

Aku ingin suatu hari orang-orang yang dulu meremehkanku, atau bahkan yang tidak pernah benar-benar memperhatikanku, melihat bahwa aku bisa jadi seseorang.

Dan keinginan seperti itu... diam-diam sangat melelahkan.


---

Sore harinya, aku berangkat menemui Daffa dan beberapa teman lain untuk membahas proyek kecil yang sempat kami rancang.

Kami bertemu di sebuah warung kopi sederhana dekat jalan besar. Tempatnya tidak terlalu ramai, tapi cukup nyaman untuk duduk lama. Meja kayu, kursi plastik, kipas angin besar yang berputar di sudut ruangan, dan aroma kopi yang bercampur dengan suara kendaraan dari luar.

Daffa sudah datang lebih dulu.

Seperti biasa, dia terlihat rapi, segar, dan seolah tahu betul hidupnya sedang dibawa ke mana. Aku tahu tidak adil menilai seseorang dari penampilannya saja, tapi entah kenapa, orang-orang seperti Daffa selalu membuatku merasa hidupku terlalu berantakan.

“Lama banget, Bro,” katanya sambil tertawa kecil begitu aku datang.

“Jalanan,” jawabku singkat.

Aku duduk, lalu pertemuan kecil itu dimulai.

Awalnya biasa saja. Kami membahas ide, pembagian tugas, target kecil, dan kemungkinan ke depan. Tapi semakin lama, aku mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman.

Mereka semua terdengar yakin.

Yakin dengan langkah mereka.
Yakin dengan apa yang sedang mereka bangun.
Yakin dengan masa depan yang sedang mereka kejar.

Dan aku?

Aku duduk di antara mereka sambil sesekali mengangguk, menjawab seperlunya, tapi diam-diam merasa seperti orang yang datang membawa keraguan sendiri.

Bukan karena aku tidak mau maju.

Aku mau.

Sangat mau.

Tapi ada bagian dalam diriku yang mulai bertanya:

Apa aku benar-benar sedang berada di jalur yang tepat... atau cuma sedang ikut berlari karena takut tertinggal?

Obrolan mereka terus berjalan.

Tentang peluang.
Tentang target.
Tentang hasil.
Tentang bagaimana “kalau ini jalan, nanti bisa begini dan begitu.”

Semua terdengar menjanjikan.

Tapi di tengah percakapan itu, aku malah merasa semakin jauh dari diriku sendiri.

Aku memandangi gelas di depanku.

Es teh yang kupesan sejak tadi sudah hampir habis. Butiran air menempel di sisi luar gelas, lalu menetes pelan ke meja.

Aneh sekali. Di saat semua orang tampak bersemangat, justru hatiku terasa berat.

Bukan karena aku tidak ingin ikut bertumbuh.

Tapi karena semakin lama, aku mulai sadar bahwa selama ini aku terlalu sering memaksakan diriku masuk ke banyak hal, tanpa pernah benar-benar bertanya:

Apakah ini memang jalan yang Allah bukakan untukku... atau cuma jalan yang kelihatan keren di mata manusia?

Pertanyaan itu muncul begitu saja.

Dan setelah muncul, ia tidak mau pergi.


---

Malam harinya, setelah pulang, aku langsung masuk kamar.

Aku tidak menyalakan laptop. Tidak membuka catatan target. Tidak juga mengecek grup.

Aku hanya duduk di tepi kasur sambil menatap lantai.

Capek sekali.

Bukan capek fisik. Tapi capek karena rasanya kepalaku penuh, dadaku penuh, dan hatiku pun ikut penuh.

Aku merasa seperti seseorang yang terus mengisi hidupnya dengan banyak hal, tapi semakin hari justru semakin kehilangan arah.

Aku bangkit pelan, mengambil wudu, lalu kembali membentangkan sajadah.

Malam itu aku salat lebih pelan dari biasanya.

Bukan karena aku tiba-tiba jadi jauh lebih khusyuk.

Tapi karena aku sedang benar-benar tidak punya tempat lain untuk pulang.

Setelah salam, aku tetap duduk.

Lama.

Sangat lama.

Lalu aku menunduk dan berbisik pelan:

“Ya Allah... kalau selama ini aku terlalu sibuk mengejar banyak hal sampai lupa bertanya apakah Engkau ridha atau tidak... tolong maafkan aku.”

Tenggorokanku terasa sempit.

Aku menelan ludah sebelum melanjutkan.

“Aku capek, ya Allah... capek jadi orang yang kelihatannya jalan terus, tapi hatinya nggak pernah benar-benar tenang.”

Mataku mulai panas.

“Kalau memang ada yang harus kulepaskan, tolong kasih aku ikhlas. Kalau memang ada yang harus kupilih, tolong kasih aku jelas. Dan kalau selama ini aku salah arah... tolong jangan biarkan aku terus jauh.”

Aku diam setelah itu.

Sunyi.

Tidak ada jawaban yang langsung terdengar.

Tapi entah kenapa, malam itu aku mulai mengerti satu hal kecil:

mungkin masalahku selama ini bukan cuma karena aku terlalu banyak mimpi.

Mungkin masalahku adalah aku terlalu banyak berjalan, tanpa cukup sering berhenti untuk memastikan apakah langkahku masih mengarah kepada Allah.

Aku mengangkat kepala pelan.

Lampu kamar masih menyala. Sticky note di dinding masih ada. Laptop masih tertutup di meja.

Semuanya masih sama.

Tapi di dalam diriku, ada sesuatu yang mulai retak pelan-pelan.

Bukan retak yang menghancurkan.

Tapi retak yang mungkin memang diperlukan... agar cahaya bisa masuk.

Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, aku mulai berani mengakui satu hal yang paling jujur:

Aku tidak butuh hidup yang terlihat sibuk.

Aku butuh hidup yang benar-benar bertumbuh.

Dan mungkin, pertumbuhan itu tidak selalu dimulai dari menambah banyak hal.

Kadang justru dimulai dari berani mengurangi.

Mengurangi ego.
Mengurangi perbandingan.
Mengurangi keinginan untuk terlihat hebat.
Mengurangi langkah-langkah yang ramai, tapi kosong.

Agar yang tersisa hanya satu:

langkah yang benar-benar punya arah.


---



Share this article :

0 komentar:

Post a Comment



 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Tulisan Khozin_99 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger