adsbygoogle.js'/> Langkah yang Terburu-Buru | Tulisan Khozin_99
Home » » Langkah yang Terburu-Buru

Langkah yang Terburu-Buru

Written By Khozin_99 on Wednesday, 1 April 2026 | 4/01/2026 09:31:00 am



Jam di pojok layar laptopku menunjukkan pukul 22.47.
Aku menatap angka itu lama, seolah dengan melihatnya terus-menerus waktu akan berhenti bergerak. Tapi tentu saja tidak. Malam tetap berjalan seperti biasa. Yang tidak biasa hanya isi kepalaku yang rasanya sudah terlalu penuh sejak sore tadi.
Di hadapanku, layar laptop masih menyala terang. Dokumen proposal yang kubuka sejak selesai magrib belum banyak berubah. Kursor itu terus berkedip di ujung kalimat terakhir seperti orang yang sedang menungguku berkata sesuatu, sementara aku sendiri tidak tahu harus mulai dari mana.
Aku mengusap wajah pelan.
Meja belajarku tampak seperti isi kepala yang dipindahkan ke dunia nyata—penuh, tidak tenang, dan berantakan.
Ada buku catatan yang terbuka di halaman kosong. Ada pulpen tanpa tutup. Ada gelas teh yang tadi kubuat dengan niat menemani malam yang produktif, tapi sekarang isinya sudah dingin. Di dinding depan meja, beberapa sticky note masih menempel rapi. Tulisan-tulisan itu kubuat sendiri beberapa hari lalu, saat semangatku sedang tinggi-tingginya.
Bangun sebelum subuh.
Kurangi menunda.
Harus lebih fokus.
Jangan buang umur.
Dan satu tulisan paling besar, tepat di tengah, dengan huruf yang sengaja kutebalkan:
Aku harus sukses.
Aku menatap tulisan itu cukup lama.
Dulu kalimat itu terasa seperti bahan bakar. Tapi malam ini, entah kenapa, ia terdengar seperti beban.
Aku menyandarkan tubuh ke kursi. Punggungku pegal. Mataku terasa panas. Tetapi yang paling capek sebenarnya bukan badan ini.
Hatiku yang lelah.
Kepalaku yang terlalu ramai.
Aku punya terlalu banyak hal yang ingin kukejar.
Proposal lomba belum selesai.
Target belajar masih berantakan.
Rencana usaha kecil yang sempat kubicarakan dengan semangat minggu lalu belum benar-benar berjalan.
Belum lagi daftar mimpi yang terus kutambah seolah hidup ini perlombaan yang harus dimenangkan secepat mungkin.
Kadang aku sendiri bingung, sejak kapan aku mulai hidup seperti ini.
Sejak kapan aku merasa kalau aku tidak bergerak cepat sekarang, aku akan tertinggal jauh?
Sejak kapan aku mulai menilai diriku dari seberapa banyak yang bisa kutunjukkan kepada orang lain?
Aku meraih ponsel yang tergeletak di dekat laptop, lalu membuka aplikasi catatan. Daftar target yang kutulis beberapa hari lalu masih ada di sana.
• Menyelesaikan proposal
• Belajar desain
• Mulai usaha kecil
• Menambah relasi
• Membaca buku rutin
• Bangun lebih pagi
• Kurangi main HP
• Menata hidup
• Harus berubah tahun ini
Aku membacanya pelan.
Lalu aku tertawa kecil, tapi tidak benar-benar lucu.
Menata hidup.
Kalau jujur, aku bahkan tidak yakin hidupku saat ini benar-benar sedang tertata. Yang ada justru seperti berlari ke banyak arah dalam waktu bersamaan.
Aku meletakkan ponsel pelan.
Kamar terasa sunyi.
Dari luar, sesekali terdengar suara motor lewat. Setelah itu sepi lagi. Rumah juga sudah mulai tenang. Ayah mungkin sudah tidur. Ibu biasanya masih bangun sedikit lebih lama, mungkin sedang melipat pakaian, mengecek pintu, atau membereskan dapur sebelum akhirnya beristirahat.
Rumah kami tidak besar. Suara langkah pelan pun kadang masih bisa terdengar sampai ke kamarku. Dan entah kenapa, malam seperti ini selalu membuat semuanya terasa lebih jelas—kesunyian, kelelahan, dan isi hati yang tidak tahu harus diletakkan di mana.
Aku menatap layar laptop lagi.
Kalimat terakhir di dokumen itu masih sama.
Latar belakang masalah...
Setelah itu kosong.
Padahal sudah hampir satu jam aku duduk di sini. Aku sempat menulis, lalu menghapus. Mencari referensi, lalu malah pindah ke video lain. Berniat fokus, lalu berakhir membuka media sosial tanpa tujuan.
Tanganku refleks membuka browser lagi.
Ada artikel tentang cara mengatur waktu.
Ada video tentang mindset sukses di usia muda.
Ada konten tentang kebiasaan orang disiplin.
Ada akun seseorang yang usianya tidak jauh dariku, tapi sudah terlihat punya arah hidup yang jelas.
Aku mengusap wajahku lagi, kali ini lebih kasar.
Aku tahu ini buruk.
Aku tahu terlalu sering melihat hidup orang lain hanya akan membuatku semakin lelah.
Tapi entah kenapa, aku tetap melakukannya. Seolah-olah dengan melihat orang lain berlari, aku akan terdorong untuk ikut berlari lebih cepat.
Padahal yang terjadi justru sebaliknya.
Aku makin kehilangan napas.
Ponselku bergetar.
Notifikasi dari grup pertemanan masuk. Salah satu temanku mengirim foto sertifikat lomba dan beberapa dokumentasi kegiatan. Di bawahnya ada caption singkat:
“Alhamdulillah, satu lagi proses menuju mimpi.”
Teman-teman yang lain langsung ramai mengucapkan selamat. Ada yang kirim emoji api, ada yang bercanda minta traktir, ada yang bilang bangga.
Aku membaca pesan itu beberapa detik.
Lalu menutup grupnya.
Dadaku terasa sesak.
Bukan karena aku tidak ikut bahagia. Aku benar-benar senang melihat orang lain berhasil. Tapi kalau aku jujur, ada bagian kecil dalam diriku yang selalu diam-diam bertanya setiap kali melihat pencapaian orang lain:
Ya Allah... kapan giliranku?
Pertanyaan itu sederhana, tapi cukup untuk membuat hatiku jatuh berkali-kali.
Aku memutar kursi menjauh dari meja lalu menatap langit-langit kamar.
Cat putih di atas sana mulai sedikit kusam. Tidak ada yang istimewa. Tapi malam itu, benda sesederhana langit-langit kamar terasa jauh lebih tenang daripada isi hatiku sendiri.
Akhir-akhir ini aku sering merasa hidupku penuh gerak, tapi tidak benar-benar bertumbuh.
Setiap hari aku sibuk.
Setiap hari ada yang kukerjakan.
Setiap hari aku capek.
Tapi kalau ditanya apa yang benar-benar selesai, apa yang benar-benar berhasil kubangun, aku sendiri bingung menjawab.
Kadang aku merasa masalahku adalah kurang disiplin.
Kadang aku merasa masalahku adalah terlalu banyak mau.
Kadang, di waktu-waktu paling jujur, aku takut kalau sebenarnya aku hanya anak muda biasa yang terlalu banyak mimpi, tapi tidak cukup baik untuk mewujudkannya.
Pikiran itu menyakitkan.
Aku menoleh ke dinding lagi. Sticky note yang dulu kutempel dengan semangat malam ini justru terasa seperti pengingat bahwa aku belum jadi apa-apa.
Kenapa semuanya rasanya harus cepat?
Kenapa aku seperti dikejar sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tahu bentuknya?
Kenapa setiap hari aku merasa harus menjadi seseorang, padahal aku sendiri belum selesai mengenal diriku?
Dan yang lebih menyakitkan, di tengah semua ambisi itu, aku mulai merasa jauh dari sesuatu yang seharusnya paling dekat.
Allah.
Ponselku bergetar lagi.
Kali ini pesan dari Ibu.
Ibu:
Belum tidur, Nak?
Aku langsung membalas.
Aku:
Belum, Bu. Lagi ngerjain.
Tidak lama, balasan datang lagi.
Ibu:
Jangan malam-malam terus. Besok bangun subuh ya.
Aku tersenyum tipis.
Lalu satu pesan lagi masuk.
Ibu:
Salat Isya sudah?
Jari-jariku langsung diam di atas layar.
Aku menoleh ke pojok kamar, ke arah sajadah yang masih terlipat rapi di atas rak kecil. Di sebelahnya ada sarung yang belum kusentuh sejak tadi sore.
Dadaku terasa tidak nyaman.
Belum.
Dan yang membuatku lebih tidak tenang bukan hanya karena aku belum salat, tapi karena sebenarnya tadi aku sempat berniat.
Waktu azan Isya terdengar dari masjid, aku bahkan sudah berdiri dari kursi. Sudah hampir mengambil handuk kecil untuk wudu. Tapi lalu ada notifikasi. Ada file yang belum selesai. Ada ide yang takut hilang. Lalu aku bilang ke diriku sendiri:
Sebentar lagi.
Dan “sebentar lagi” itu sekarang berubah menjadi hampir jam sebelas malam.
Aku membaca lagi chat dari Ibu.
Lalu membalas pelan.
Aku:
Belum, Bu. Ini mau salat.
Balasan Ibu datang singkat.
Ibu:
Iya, Nak.
Cuma itu.
Tidak ada marah. Tidak ada ceramah. Tidak ada kalimat panjang.
Tapi justru karena itu, dadaku terasa makin berat.
Ada rasa malu yang pelan-pelan naik ke permukaan.
Malu karena sepanjang hari aku sibuk menyusun masa depan, tapi sering menunda panggilan Allah.
Malu karena aku terus mengeluh hatiku tidak tenang, sementara tempat pulang yang sebenarnya justru sering kutaruh di urutan paling akhir.
Aku berdiri dari kursi.
Kakiku pegal. Mataku lelah. Tapi ada satu rasa lain yang jauh lebih kuat dari semua itu:
aku rindu tenang.
Rindu salat tanpa dikejar apa-apa.
Rindu hati yang tidak terlalu ramai.
Rindu merasa cukup dekat dengan Allah untuk bisa bercerita tanpa malu.
Aku mengambil sajadah, lalu membentangkannya di lantai.
Entah kenapa, setiap kali sajadah itu terbentang, kamar ini selalu terasa sedikit berbeda.
Masih sama sempitnya.
Masih sama berantakannya.
Masih sama pengapnya.
Tapi setidaknya, untuk beberapa menit, aku seperti diberi ruang untuk berhenti dari semua yang selama ini mengejarku.
Aku berdiri menghadap kiblat.
Lalu mengangkat kedua tangan.
“Allahu Akbar.”
Takbir itu keluar pelan dari bibirku, tapi terasa berat di telingaku sendiri.
Saat mulai membaca Al-Fatihah, pikiranku belum juga tenang.
Proposal.
Lomba.
Teman-teman.
Target.
Masa depan.
Harapan Ibu.
Takut gagal.
Takut tertinggal.
Takut tidak jadi apa-apa.
Semuanya seperti ikut berdiri bersamaku di atas sajadah.
Aku mencoba fokus.
Mencoba benar-benar hadir.
Tapi malam itu aku justru sadar, sudah lama sekali aku tidak benar-benar tenang saat salat.
Sudah lama sekali aku tidak datang kepada Allah dengan hati yang utuh.
Aku masih salat. Aku masih berdoa. Aku masih mengucap “Bismillah” sebelum memulai banyak hal.
Tapi belakangan ini, semuanya terasa seperti lewat saja. Seperti rutinitas yang tetap kulakukan, tapi tidak lagi benar-benar kupeluk dengan hati.
Dan itu menyakitkan untuk diakui.
Karena jauh di dalam diriku, aku tahu satu hal:
barangkali bukan hidupku yang terlalu berat...
barangkali hatiku yang terlalu jauh dari tempat ia seharusnya bersandar.
Aku menyelesaikan salat itu perlahan.
Lalu duduk di atas sajadah, diam cukup lama.
Kipas angin di sudut kamar masih berputar. Lampu belajar masih menyala. Laptopku masih terbuka. Sticky note di dinding masih ada di tempatnya.
Semuanya masih sama.
Tapi setelah salat, semuanya terasa lebih telanjang.
Lebih jujur.
Aku menunduk.
Lalu, hampir tanpa sadar, berkata pelan:
“Ya Allah...”
Suaraku terdengar serak.
Aku menarik napas, tapi dadaku justru terasa makin sesak.
“...aku capek.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Bukan doa panjang.
Bukan kata-kata indah.
Bukan kalimat yang rapi.
Hanya kejujuran yang mungkin sudah terlalu lama kutahan sendiri.
“Aku pengin hidupku berubah,” bisikku. “Aku pengin sukses. Aku pengin bantu Ibu. Aku pengin bikin orang tuaku bangga. Aku pengin jadi orang yang lebih baik.”
Mataku mulai panas.
“Tapi aku bingung, ya Allah...”
Suaraku mengecil.
“Kenapa rasanya aku jalan terus, tapi kayak nggak ke mana-mana?”
Tenggorokanku terasa sempit.
Aku menunduk lebih dalam.
“Kenapa aku makin banyak mimpi, tapi makin sedikit tenang?”
Kalimat itu keluar pelan, tapi setelah mengucapkannya, aku justru merasa itulah pertanyaan yang selama ini paling jujur.
Bukan cuma soal kenapa aku belum berhasil.
Tapi kenapa aku makin jauh dari ketenangan.
Sunyi.
Tidak ada jawaban yang langsung datang malam itu.
Tidak ada rasa damai yang tiba-tiba turun dan membuat semuanya baik-baik saja.
Yang ada cuma aku.
Aku, kamar sempitku, laptop yang belum selesai, target-target yang menumpuk, dan hati yang akhirnya cukup jujur untuk mengakui bahwa selama ini aku terlalu sibuk berlari.
Mungkin memang perubahan tidak selalu dimulai dari momen besar.
Kadang ia dimulai dari malam biasa seperti ini.
Malam ketika seseorang terlalu lelah untuk terus terlihat kuat.
Malam ketika seorang hamba akhirnya duduk di atas sajadah dan mengaku kepada Rabb-nya bahwa ia tidak baik-baik saja.
Aku mengangkat kepala pelan.
Mataku jatuh lagi pada tulisan besar di dinding:
Aku harus sukses.
Aku menatap kalimat itu lama sekali.
Biasanya tulisan itu membuatku bersemangat.
Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, aku merasa ada sesuatu yang salah.
Bukan pada mimpiku.
Tapi pada caraku melangkah.
Karena tiba-tiba satu pertanyaan muncul begitu saja di dalam kepalaku:
Kalau aku terus begini, sebenarnya aku sedang mengejar masa depan... atau sedang kehilangan Allah sedikit demi sedikit?
Aku memejamkan mata.
Pertanyaan itu membuat dadaku bergetar.
Sebab sejujurnya, aku tahu: aku tidak takut capek.
Aku juga tidak takut gagal.
Yang sebenarnya paling kutakutkan adalah ini—
aku berhasil meraih banyak hal,
tapi kehilangan tenang,
kehilangan arah,
dan kehilangan kedekatan dengan Allah di sepanjang jalan.
Udara malam terasa makin dingin. Dari kejauhan, suara motor lewat terdengar samar, lalu hilang lagi.
Aku duduk cukup lama di atas sajadah malam itu.
Tidak sedang menjadi anak muda yang kuat.
Tidak sedang menjadi orang yang penuh semangat.
Tidak sedang menjadi sosok yang tahu semua jawaban.
Aku cuma sedang menjadi diriku sendiri.
Seorang anak muda yang punya banyak mimpi, tapi mulai sadar bahwa selama ini aku terlalu sibuk mengejar hasil, sampai lupa belajar menata langkah di hadapan Allah.
Dan mungkin, justru di situlah semuanya dimulai.
Bukan saat aku berlari lebih cepat.
Tapi saat aku akhirnya berhenti sejenak... lalu bertanya pada diriku sendiri:
Kalau suatu hari aku benar-benar sampai,
apakah aku sampai dalam keadaan dekat kepada Allah...
atau justru jauh?

Bersambung.....

Share this article :

0 komentar:

Post a Comment



 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Tulisan Khozin_99 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger