Tujuan Pembelajaran & Kata Kunci
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, kalian diharapkan dapat memahami bagaimana adab bermasyarakat, seperti menjalin silaturahmi dan menjaga hak-hak tetangga dalam kehidupan sehari-hari.[cite: 1]
B. Kata Kunci
Adab, Lingkungan, Masyarakat, Muslim, Silaturahmi[cite: 1]
D. Ayo Mengaji
Pembelajaran kali ini kita awali dengan membaca beberapa ayat pilihan berikut yang berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari. Bacalah ayat berikut ini dengan tartil, perhatikan makhārijul hurūf dan hukum bacaan tajwidnya. Semoga dengan bacaan ayat Al-Qur'an ini akan semakin meneguhkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt.[cite: 1]
1. QS Al-Hujurat/49:10
2. QS Al-Baqarah/2:83
3. QS al-Maidah/5:8
E. Apersepsi
Aktivitas 3.2
Cermatilah aktivitas di bawah ini, kemudian jelaskan sesuai dengan hasil pengamatan kalian masing-masing. Bagaimana praktik kehidupan di masyarakat sesuai dengan gambaran tersebut? Berikan penjelasan![cite: 1]
- Gambar 3.1: Silaturrahmi dapat dilakukan dengan saling mengunjungi tetangga[cite: 1]
- Gambar 3.2: Saling membantu dalam kebaikan sebagai wujud hidup bermasyarakat[cite: 1]
- Gambar 3.3: Menjenguk tetangga yang sedang sakit di rumah sakit[cite: 1]
- Gambar 3.4: Urun rembuk sebagai kerukunan dan kerjasama warga[cite: 1]
E. Kisah Inspiratif
Aktivitas 3.3
Bacalah cerita inspiratif berikut ini. Catatlah nilai-nilai kebaikan yang kalian temukan kemudian jabarkan bagaimana praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kalian masing-masing, apakah nilai-nilai tersebut masih terjaga dan lestari?[cite: 1]
'Ukkāsyah bin Mihşan
Pada zaman keemasan Islam, di Madinah, hiduplah seorang sahabat Nabi yang luar biasa. Namanya 'Ukkāsyah bin Miḥşan. Beliau tidak hanya dikenal karena keberanian dalam medan perang, tetapi juga karena keutamaannya dalam menjalin silaturahmi serta menjaga hak tetangga.[cite: 1]
'Ukkāsyah tinggal di sebuah kampung kecil di pinggiran Madinah. Rumahnya bersebelahan dengan seorang tetangga, Aminah, seorang janda tua yang hidup dalam keterbatasan. Meskipun 'Ukkāsyah memiliki keluarga dan kebutuhan sendiri, beliau selalu berusaha membantu Aminah tanpa mengharapkan imbalan.[cite: 1]
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, 'Ukkāsyah sudah berada di depan pintu Aminah dengan membawa makanan. Ia membersihkan halaman rumah janda tua itu, memasakkan makanan yang lezat, dan membantu membersihkan rumahnya. Selalu dengan senyum dan penuh keikhlasan, 'Ukkāsyah menjalani rutinitas ini.[cite: 1]
Suatu hari, Aminah jatuh sakit parah. 'Ukkāsyah segera membawa dokter dan mengurus keperluan Aminah tanpa kenal lelah. Ketika ditanya mengapa ia berbuat demikian, Ukkasyah hanya menjawab, "Aku melakukan ini bukan karena kewajiban, tetapi karena kita semua adalah tetangga. Allah menciptakan tetangga sebagai ujian untuk saling mengenal dan peduli."[cite: 1]
Ketika Nabi Muhammad mendengar kisah pengabdian 'Ukkāsyah kepada Aminah, beliau memberikan pujian dan bersabda, "'Ukkāsyah telah memahami esensi Islam dengan menjaga hak tetangga dan menyebarkan cinta melalui Silaturahmi."[cite: 1]
Dari kisah 'Ukkāsyah bin Miḥşan, kita dapat mengambil beberapa hikmah yang berharga. Pertama, silaturahmi dan menjaga hak tetangga merupakan bagian integral dari ajaran Islam. Kedua, kebaikan kepada tetangga tidak tergantung pada seberapa dekat hubungan kita, tetapi sejauh mana kita mau berkorban demi kebahagiaan mereka.[cite: 1]
Mari kita renungkan kata-kata bijak Nabi Muhammad, "Tidak sempurna iman antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." Jadi, mari kita jaga silaturahmi dan hak tetangga dengan sepenuh hati, karena di dalamnya terdapat keberkahan dan kedamaian yang Allah janjikan untuk kita semua.[cite: 1]
G. Wawasan Keislaman
Pentingnya menjalin silaturahmi dan menjaga hak-hak tetangga merupakan aspek fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam perspektif Islam, keduanya disorot sebagai bagian integral dari ajaran agama yang mengajarkan kasih sayang, kepedulian, dan keadilan. Silaturahmi, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an, merupakan fondasi hubungan sosial yang ditekankan agar setiap muslim dapat merasakan kebersamaan dan saling mendukung.[cite: 1]
Begitu pula hak-hak tetangga menjadi bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam. Ayat-ayat dalam Al-Qur'an menegaskan pentingnya berbuat baik terhadap sesama, termasuk tetangga (QS al-Baqarah/2:83 dan QS al-Maidah/5:8). Menghormati hak-hak tetangga mencakup berbagai aspek, seperti keamanan, privasi, dan kebersihan lingkungan. Ajaran ini mendorong timbulnya rasa tanggung jawab dan saling menghormati di antara individu yang hidup bersama dalam suatu komunitas.[cite: 1]
1. Adab Bermasyarakat dalam Islam
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri dan lepas dari orang lain. Keberadaan orang lain dalam kehidupan dibutuhkan oleh manusia guna bertahan hidup karena sifat dasarnya adalah makhluk sosial. Konsep sebagai makhluk sosial dalam Islam pun diatur sedemikian rupa sehingga antara satu dengan yang lain saling membutuhkan dan melengkapi atau dalam Islam dikenal dengan istilah at-ta'awun (tolong menolong).[cite: 1]
Sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk menolong muslim yang lain dalam hal kebaikan dan takwa. Bahkan anjuran untuk saling tolong menolong ini termaktub dalam Al-Qur'an. Kehidupan bermasyarakat yang dijalani oleh seorang muslim tidak dapat lepas dari at-ta'awun. Bahkan bukan hanya tolong menolong, adab dalam bermasyarakat pun menjadi perhatian penting dalam Islam. Salah satunya adalah silaturahmi.[cite: 1]
Dalam kehidupan bertetangga, bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara kita sebagai umat senantiasa bersosialisasi, berinteraksi dengan yang lainnya. Khususnya umat muslim, sudah sepantasnya kita menampilkan akhlak mulia yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw., dan para sahabat beliau. Praktik akhlak mulia terhadap sesama, tetangga dan orang-orang terdekat menjadi keharusan untuk dilakukan. Karena bersama merekalah kita semua hidup berdampingan membangun peradaban dan sejarah kehidupan. Akhlak dan adab bermasyarakat dalam kehidupan sehari-hari menjadi nilai penting. Sehingga praktik nyatanya bisa dilakukan sesuai syariat Islam.[cite: 1]
Akhlak dalam masyarakat adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang dilakukan secara spontan tanpa pertimbangan terlebih dahulu dalam lingkungan atau kehidupan. Islam mengatur sedemikian detail mengenai hal ini, sehingga terbangun kehidupan yang harmonis dan baik, terwujud bangsa dan negara yang baldatun țayyibatun wa rabbun gafür.[cite: 1]
2. Menjalin Silaturahmi
Dalam kehidupan bermasyarakat, akan dijumpai kegiatan silaturahmi. Silaturrahmi adalah berarti menyambung tali kasih sayang. Kegiatan silaturrahmi ini diperintahkan oleh agama Islam, baik dalam Al-Qur'an maupun hadis Nabi. Oleh karena itu, orang yang berakhlak baik biasanya senang bersilaturahmi. Karena silaturrahmi dapat menguatkan hubungan sesama.[cite: 1]
Silaturahmi merupakan kata majemuk, dari kata şilāh dan rahīm. Kata şilāh berakar dari kata waşl yang berarti menyambung dan menghimpun. Ini berarti hanya yang putus dan terserak yang dituju oleh şilāh. Sedangkan kata rahīm berarti kasih sayang dan tempat janin. Dalam konsep ini, silaturahmi yang dimaksud adalah silaturahmi yang dilakukan berdasarkan hubungan sesama umat manusia.[cite: 1]
Silaturahmi hendaknya dilakukan oleh seluruh umat Islam, baik yang ada kaitan hubungan nasab (keturunan) maupun persaudaraan sesama muslim (Ukhuwah Islamiyah). Bahkan kepada mereka yang non-muslim (berbeda keyakinan) pun dituntut untuk berbuat baik, saling menghormati dan menghargai. Beberapa kegiatan dalam masyarakat yang berkaitan dengan silaturahmi sebagai berikut.[cite: 1]
a. Bertamu dan Menerima Tamu
Bertamu dan menerima tamu merupakan salah satu bentuk amalan silaturahmi yang sangat dianjurkan dalam Islam. Rasulullah Saw., bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaklah ia berbuat baik kepada tamunya." (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, memuliakan tamu dengan baik merupakan bentuk penghormatan terhadap mereka. Kedatangan dan keberadaan tamu membawa berkah dan menjadi wujud terjalinnya tali silaturahmi antar sesama.[cite: 1]
Sebagai seorang muslim, ketika bertamu dan menerima tamu hendaknya memperhatikan adab dan aturan yang berlaku. Hal ini dimaksudkan agar keberadaan dan posisi kita terutama sebagai tamu, tidak mengganggu penerima tamu (pemilik rumah). Berikut adalah beberapa adab dalam bertamu yang penting untuk diperhatikan dan dipraktikkan:[cite: 1]
- Meminta izin kepada pemilik rumah. Hal ini penting untuk memastikan bahwa tuan rumah tidak terganggu dan bersedia menerima kehadiran kita sebagai tamu. Bahkan Rasulullah Saw., menganjurkan untuk meminta izin sebanyak tiga kali ketika akan bertamu, jika diizinkan maka masuklah namun jika tidak maka pulanglah.[cite: 1]
- Mengucap salam, yakni mengucapkan "Assalamu'alaikum warahmatullāhi wabarakatuh." Dalam ucapan salam, terdapat doa dari tamu dan dari penerima tamu.[cite: 1]
- Ketuklah pintu. Lakukan aktivitas ini ketika akan bertamu ke rumah seseorang. Ketuklah pintu dengan sopan, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Saw., melalui hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Adab Al-Mufrad, yakni para sahabat ketika akan bertamu, mengetuk pintu, dan ketukannya tersebut tidak mengganggu pemilik rumah yang sedang dikunjungi.[cite: 1]
- Hendaknya tidak mengintip. Hal remeh yang sering dilakukan oleh orang saat bertamu adalah mengintip. Tatkala ketukan pintu tidak ada jawaban, yang dilakukan biasanya adalah mengintip di balik kaca atau jendela untuk memastikan pemilik rumah berada di tempat atau tidak. Padahal, mengintip sebaiknya tidak dilakukan karena dikhawatirkan membuat ketidaknyamanan bagi pemilik rumah.[cite: 1]
- Memperhatikan waktu. Ketika bertamu pastikan di waktu yang tepat. Waktu-waktu yang tidak mengganggu penerima tamu. Oleh karena itu, hendaknya memperhatikan waktu berkunjung, misalnya tidak datang pada jam istirahat. Perhatikan pula durasi waktu berkunjung agar tidak terlalu lama, karena dikhawatirkan tuan rumah memiliki kegiatan lainnya selain menerima tamu.[cite: 1]
- Dianjurkan membawa buah tangan (oleh-oleh) sebagai hadiah. Rasululullah Saw., menjelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, "Hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai."[cite: 1]
- Berkata yang baik atau diam. Hal ini merupakan suatu prinsip penting dalam menjaga silaturahmi dan keharmonisan hubungan sosial dalam masyarakat Islam. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari ditekankan bahwa orang yang beriman harus berbicara dengan baik atau diam (dalam situasi tertentu). Hal ini penting dilakukan guna menjaga agar tidak menyakiti perasaan orang lain. Kata-kata yang baik dan bijak dapat menjadi ibadah dan menunjukkan kualitas iman seseorang. Diam dalam hadis ini bukanlah berarti tidak bicara sama sekali, bicara bila sangat diperlukan dan bila dipandang bermanfaat. Diam di sini juga bertujuan untuk menghindari konflik yang tidak perlu.[cite: 1]
Selain itu, hendaknya juga memperhatikan adab berbicara dengan orang lain. Paling tidak ada tujuh adab berbicara sesuai tuntunan syariat Islam, yakni:[cite: 1]
- Tidak berkata buruk atau kotor;[cite: 1]
- Tidak ada dusta dalam candaan. Rasulullah saw., bersabda, "Celakalah seseorang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat sekelompok orang tertawa;[cite: 1]
- Mendahulukan yang lebih tua dalam berbicara;[cite: 1]
- Tidak menyela pembicaraan;[cite: 1]
- Tidak tergesa-gesa agar orang yang mendengarkan menjadi paham akan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan;[cite: 1]
- Menghindari debat yang tidak bermanfaat, karena akan memicu pertikaian dan pertengkaran;[cite: 1]
- Menghindari gibah atau membicarakan kejelekan orang lain.[cite: 1]
b. Adab pergaulan dengan lawan jenis
Manusia pasti akan bergaul baik dengan sesama jenis maupun dengan lawan jenis. Dalam bergaluh hendaknya juga menjaga adab pergaulan. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menjaga batas-batas dan etika dalam berinteraksi dengan lawan jenis, dengan tujuan mencegah terjadinya perilaku yang tidak senonoh dan menjaga kehormatan serta martabat setiap individu.[cite: 1]
Adab pergaulan dengan lawan jenis mencakup beberapa aspek. Pertama, pentingnya berbicara dengan sopan dan tulus. Rasulullah saw., bersabda, "Sesungguhnya yang paling lengkap imanmu di antara mukmin adalah yang terbaik akhlaknya, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istrinya" (HR Tirmidzi).[cite: 1]
Kedua, menjaga pandangan mata dan batas-batas kehormatan dirinya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam QS An-Nūr/24:30-31, ... "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang mereka perbuat. (30) "Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (bagian tubuhnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. Hendaklah pula mereka tidak menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara perempuan mereka, para perempuan (sesama muslim), hamba sahaya yang mereka miliki, para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Hendaklah pula mereka tidak mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung."[cite: 1]
Ketiga, bersikap tulus dan menghindari perilaku yang meresahkan atau menimbulkan fitnah. Rasulullah Saw., mengingatkan bahwa setiap perbuatan membuka kejelekan atau aib harus dihindari.[cite: 1]
Keempat, menjaga batas-batas komunikasi. Hal ini bertujuan agar tidak melewati batas-batas kesopanan. Menciptakan batasan yang jelas dalam komunikasi dengan lawan jenis dapat membantu mencegah munculnya kesalahpahaman dan menjaga kehormatan masing-masing individu.[cite: 1]
Dengan memahami dan menginternalisasi adab pergaulan dengan lawan jenis, individu diharapkan dapat membentuk masyarakat yang beradab dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral, sehingga menciptakan hubungan yang sehat antarindividu, juga membawa berkah dan kedamaian dalam tatanan sosial. Selanjutnya disebutkan bahwa adab bergaul antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan syariat Islam, hendaknya memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:[cite: 1]
- Tidak berkhalwat (berduaan dengan lawan jenis) di tempat sepi karena merupakan perilaku yang melanggar syari'at. Hal ini harus dihindari karena akan menimbulkan fitnah dan bahkan terjerumus ke dalam perbuatan dosa.[cite: 1]
- Menjaga pandangan. Baik laki-laki maupun perempuan, hendaknya menjaga pandangan masing-masing terhadap anggota tubuh lawan jenis yang dapat mengundang syahwat, sehingga terhindar dari perbuatan dosa.[cite: 1]
- Menjaga diri ketika berbicara. Dalam berbicara dengan lawan jenis hendaknya tidak ada perkataan yang menujukkan pada tindakan asusila, saling merendahkan, menghinakan dan semacamnya.[cite: 1]
- Berbusana sopan dan menutup aurat. Hal ini berlaku umum. Gunakanlah pakaian yang menutup aurat, tidak terbuka sehingga tidak timbul nafsu syahwat yang dapat menggoda lawan jenis yang pada akhirnya mengarah pada tindakan asusila.[cite: 1]
c. Memenuhi Undangan Tetangga
Memenuhi undangan tetangga sangat dianjurkan, sebagai wujud menjaga silaturahmi dan memperkuat hubungan sosial di antara tetangga. Hal ini sejalan dengan ajaran agama yang menekankan pentingnya berbuat baik kepada sesama, termasuk kepada tetangga. Hubungan yang baik dengan tetangga merupakan bagian dari keimanan. Rasulullah Saw. bersabda, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaklah dia menghormati tetangganya." (HR Bukhari). Undangan dari tetangga hendaknya dijadikan sebagai kesempatan untuk mempererat ikatan sosial dan menciptakan rasa kebersamaan. Adapun adab dalam memenuhi undangan tetangga melibatkan beberapa aspek berikut.[cite: 1]
Pertama, merespons undangan dengan penuh kehormatan dan kesopanan, memenuhinya dan tidak meremehkasn apapun yang datang dari tetangga. Hal ini sejalan dengan hadis Nabi, "Jika seseorang diantara kalian diundang, maka hendaklah dia meresponsnya."[cite: 1]
Kedua, ketika memenuhi undangan, perhatikan pakaian dan kebersihan diri. Berpakaianlah dengan layak dan menjaga kebersihan diri ketika berkumpul dengan orang lain. Rasulullah Saw., bersabda, "Allah itu indah dan menyukai keindahan."[cite: 1]
Ketiga, bersikap tulus dan menghormati tuan rumah. Saat berkunjung, sikap tulus dan rasa syukur harus terpancar dalam perilaku. Ini mencakup memberikan perhatian kepada tuan rumah, menghargai usaha yang telah dilakukan untuk menyajikan hidangan, dan mengucapkan terima kasih secara tulus.[cite: 1]
Keempat, melibatkan diri dalam percakapan yang positif dan memberikan kontribusi positif dalam suasana. Komunikasi yang baik dan kontribusi positif dapat meningkatkan kebersamaan dan memperkuat hubungan sosial. Jika kita sedang bersama dengan orang lain dalam satu majlis, maka jangan sekali-kali kita asyik dengan aktivitas pribadi seperti bermain gadget dan sejenisnya, tetapi bangunlah silaturahmi dengan komunikasi positif, libatkan diri dalam obrolan yang bermanfaat atau apapun yang dapat mempererat tali silaturahmi antar sesama.[cite: 1]
Dengan memahami dan mengamalkan adab memenuhi undangan tetangga, kalian dapat membentuk lingkungan sosial yang harmonis dan penuh kasih sayang. Adab ini bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai peluang untuk saling berbagi kebahagiaan dan mempererat hubungan sosial dalam masyarakat.[cite: 1]
3. Menjaga hak-hak tetangga
Sebagai peserta didik, selain mengikuti proses pembelajaran di sekolah maupun di luar lingkungan sekolah, kalian juga belajar tentang nilai-nilai kehidupan yang dipraktikan di masyarakat kelak. Selain sebagai peserta didik, kalian juga menjadi warga masyarakat.[cite: 1]
Di lingkungan masyarakat inilah kalian belajar sekaligus mempraktikkan apa yang telah dipelajari. Sebagai warga masyarakat, kalian akan bertemu dan berinteraksi dengan ragam individu, dengan latar belakang yang bermacam-macam, dimana kalian hidup secara berdampingan dan bersama-sama.[cite: 1]
Setiap warga masyarakat memiliki hak dan kewajiban yang melekat. Hak dan kewajiban ini bersifat kemanusiaan dan berlaku universal. Misalnya, kewajiban untuk saling menghormati dan saling menghargai, kewajiban untuk berbuat baik dan peduli kepada sesama, kewajiban untuk saling menolong dalam kebaikan dan sebagainya. Jika saat menjadi seorang pelajar kalian mempelajari materi tersebut hanya sebatas konseptual belaka, maka di lingkungan masyarakat kalian akan benar-benar belajar nilai-nilai tersebut dengan cara mempraktikkannya dalam tingkah laku kehidupan sehari-hari.[cite: 1]
Selain kewajiban juga terdapat hak-hak tetangga yang harus dipenuhi, yang berkaitan dengan kehidupan bertetangga dan bermasyarakat. Menurut Syekh Hafidz Hasan Mas'udi (w. 346 H), sedikitnya ada 9 (Sembilan) hak tetangga yang harus dipenuhi, yaitu:[cite: 1]
- Memberi salam terlebih dahulu kepadanya;[cite: 1]
- Membalas kebaikannya;[cite: 1]
- Menjenguknya ketika sakit;[cite: 1]
- Memberikan ucapan selamat ketika mendapatkan kebahagiaan;[cite: 1]
- Turut berduka cita jika dia tertimpa musibah;[cite: 1]
- Tidak memandang istri, anak perempuan, dan pembantu perempuannya;[cite: 1]
- Menghindari sesuatu yang tidak membuatnya bahagia;[cite: 1]
- Menyambut tetangga dengan wajah berseri-seri dan penuh hormat; dan[cite: 1]
- Memberikan hak-haknya yang bersifat materi.[cite: 1]
Tahukah kalian siapa itu tetangga? Ya, tetangga adalah mereka yang hidup dan dekat dengan tempat tinggal kalian. Keberadaannya sangat penting, karena tanpa mereka, kalian akan hidup sendiri dan kesepian. Jika ditimpa musibah, maka tetangga terdekatlah yang akan membantu. Jika sedang berada dalam kesulitan, maka kepada tetangga terdekatlah akan meminta pertolongan. Jika mendapatkan rezeki melimpah, maka dengan tetangga terdekat pula berbagi kebahagiaan.[cite: 1]
Allah Swt., memerintahkan untuk senantiasa berbuat baik kepada tetangga, hal ini sebagaimana disebutkan dalam QS An-Nisa'/4:36 berikut ini:[cite: 1]
Artinya: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri."[cite: 1]
Ayat di atas secara eksplisit menyebutkan hak-hak tetangga dan menempatkannya di antara hak-hak orang yang harus dihormati dna dipenuhi. Pemenuhan hak atas tetangga, mencakup tetangga yang dekat dan jauh. Dengan demikian, pemenuhan hak atas tetangga adalah bagian integral dari praktik keagamaan Islam. Bukankah bersama tetangga kita senantiasa menjalani dan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari, maka memenuhi hak-hak mereka adalah keharusan agar tercipta kehidupan yang rukun dan harmonis.[cite: 1]
4. Hikmah Menjalin Silaturahmi
Terdapat banyak hikmah yang dapat dipetik dari menjalin silaturrahmi, menjalin hubungan baik dengan tetangga, di antaranya adalah sebagai berikut:[cite: 1]
- (a) terbangunnya kebersamaan dengan sesama warga masyarakat,[cite: 1]
- (b) mengurangnya ketegangan dan konflik,[cite: 1]
- (c) pertukaran ilmu dan pengalaman,[cite: 1]
- (d) penguatan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan,[cite: 1]
- (e) terciptanya lingkungan yang aman, nyaman dan damai,[cite: 1]
- (f) menumbuhkan rasa kebersamaan dan gotong-royong, dan[cite: 1]
- (g) membentuk etika sosial dan kepedulian.[cite: 1]
H. Penerapan Nilai-Nilai
| Butir Perilaku | Nilai Karakter |
|---|---|
| Gemar membaca dan mengkaji Al-Qur'an.[cite: 1] | Beriman & bertaqwa[cite: 1] |
| Tolong menolong dan peduli kepada sesama.[cite: 1] | Gotong royong, peduli[cite: 1] |
| Mengucapkan dan menjawab salam.[cite: 1] | Toleransi, kemanusiaan[cite: 1] |
| Menjalin silaturahmi dengan tetangga.[cite: 1] | Berakhlak mulia[cite: 1] |
J. Uji Kompetensi
1. Sosial Eksperimen & Sikapku
Sosial Eksperimen: Lakukan pengamatan terhadap lingkungan masyarakat (observasi, wawancara, dan dokumentasi) mengenai pola kehidupan, aktivitas keseharian, dan interaksi warga.[cite: 1]
Sikapku dalam Hidup: Beri nilai sikap kalian (1=sangat setuju, 5=sangat tidak setuju) pada pernyataan berikut:
| Pernyataan[cite: 1] | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 |
|---|---|---|---|---|---|
| 1. Saya adalah orang yang peduli kepada sesama. | |||||
| 2. Saya terbiasa membantu ketika melihat teman yang kesulitan. | |||||
| 3. Jika diundang teman, saya selalu hadir selama tidak berhalangan. | |||||
| 4. Saya senang ketika melihat teman berprestasi. | |||||
| 5. Saya tidak pernah lupa mengembalikan barang pinjaman. | |||||
| 6. Saya selalu mengucap salam ketika masuk ruangan. | |||||
| 7. Saya selalu bertegur sapa ketika bertemu teman. |
2. Pilihan Ganda
3. Pilihan Ganda Kompleks (Bisa >1 Jawaban)
7. Aspek dalam memenuhi undangan tetangga adalah...[cite: 1]
8. Hak tetangga menurut Syekh Hafidz Hasan Mas'udi di antaranya...[cite: 1]
4. Benar (B) atau Salah (S)
9. Silaturahmi sebagai nilai pendidikan dalam Islam salah satunya berfungsi untuk mengurangi ketegangan dan konflik antar sesama.[cite: 1]
10. Islam mengajarkan kita untuk bergaul dan berinteraksi hanya dengan mereka yang seagama saja.[cite: 1]
5. Uraian
- Jelaskan makna yang terkandung dalam kalimat salam dalam Islam yang dinilai sebagai sikap saling mendoakan.[cite: 1]
- Bagaimana sikap kalian dalam hal ibadah terhadap tetangga terdekat yang berbeda agama? Jelaskan.[cite: 1]
- Sebutkan nilai-nilai kehidupan yang erat kaitannya dengan Silaturahmi dan praktiknya di lingkungan masyarakat.[cite: 1]
- Salah satu adab dalam bergaul adalah tidak memotong pembicaraan. Jelaskan maksudnya.[cite: 1]
- Jelaskan makna khalwat yang dimaksud dalam adab pergaulan dan berikan contoh nyatanya di sekolah.[cite: 1]
6. Membuat Bahan Tayang
Buatlah bahan presentasi berkaitan dengan materi yang telah dipelajari secara berkelompok. Silakan presentasikan hasilnya di depan kelas dan mintalah kelompok lain untuk memberikan tanggapan.[cite: 1]




.png)
0 komentar:
Post a Comment