Moderasi Dalam Beragama
Selamat datang di media pembelajaran interaktif Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas XII. Mari pelajari bagaimana Islam mengajarkan kita untuk hidup rukun, bertoleransi, dan peduli sesama melalui ayat-ayat suci Al-Qur'an dan Hadis.
Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, kalian diharapkan dapat Membaca, Menghafal QS Al-Baqarah/2:143 dan hadis tentang Moderasi Beragama.
Kata Kunci
Kisah Inspiratif: Moderasi ala Rasulullah saw.
Dalam buku 'Akhlak Nabi Muhammad Saw' karya Ahmad Muhammad al-Hufy, dikisahkan bahwa Rasulullah pernah menyelamatkan kekurangan pasokan gandum kaum Quraisy di Makkah. Hal tersebut terjadi saat Tsumamah bin Atsal tidak akan mengirimkan gandum dari Yamamah ke Makkah tanpa izin Rasulullah. Keputusan tersebut diambil ketika Tsumamah memeluk Islam. Kaum Quraisy sering berlaku buruk kepada Rasulullah, dan beliau serta Tsumamah sejatinya bisa saja membalasnya dengan melarang pengiriman gandum ke penduduk Makkah dengan harapan kaum Quraisy akan berhenti mengganggu. Tetapi sikap Rasulullah sebaliknya, Ia mengizinkan Tsumamah tetap mengirimkan gandum.
Kisah harmonis Rasulullah lainnya kepada non-Muslim yakni ketika meninggalkan kabilah Tsaqif. Saat itu, ada seorang laki-laki yang memohon kepada Rasulullah: "Ya Rasulallah, berdoalah untuk kebinasaan mereka." Namun jawaban Rasulullah di luar dugaan. Ia justru menolak permintaan seorang laki-laki tersebut. "Ya Allah, berilah petunjuk kepada Bani Tsaqif dan tuntun mereka ke jalan yang benar," kata Rasulullah menjawab permintaan seorang laki-laki tersebut.
Ayo Mengaji
QS Al-Baqarah/2:143 tentang Moderasi Beragama
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ ۚ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيْعَ إِيْمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيمٌ
"Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menetapkan kiblat (Baitulmaqdis) yang (dahulu) kamu berkiblat kepadanya, kecuali agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia."
Mufradat (Klik Kartu untuk melihat arti)
Wawasan Keislaman
Tilawah & Terjemahan QS Al-Baqarah/2:143
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ ۚ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيْعَ إِيْمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيمٌ
"Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menetapkan kiblat (Baitulmaqdis) yang (dahulu) kamu berkiblat kepadanya, kecuali agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia."
Mufradat (Kosakata) Pilihan
| Lafal | Arti |
|---|---|
| جَعَلْنَكُمْ | Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) |
| أُمَّةً وَسَطًا | Umat pertengahan / adil |
| لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ | Agar kamu menjadi saksi |
| وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ | Kami tidak menjadikan kiblat... |
Hukum Bacaan Tajwid QS al-Baqarah/2:143
| No | Lafadzh | Hukum Bacaan | Alasan |
|---|---|---|---|
| 1. | جَعَلْنَكُمْ أُمَّةً | Izhar syafawi | Mim sukun bertemu huruf alif |
| 2. | أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا | Idgām bi gunnah | Fathatain (tanwin fathah) bertemu huruf wawu |
| 3. | لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ | Idgām bilā gunnah | Fathatain (tanwin fathah) bertemu huruf lam |
| 4. | شُهَدَاءَ عَلَى | Mad wajib muttasil | Setelah mad ada huruf hamzah dalam satu kata |
| 5. | كُنْتَ عَلَيْهَا | Ikhfa | Nun sukun bertemu huruf tā |
| 6. | عَلَيْهَا إِلَّا | Mad jaiz | Setelah mad huruf hamzah beda kata |
| 7. | شَهِيدًا | Mad iwad | Sebelum alif ada fathatain kalimat yang diwaqafkan |
| 8. | لَرَءُوْفٌ رَّحِيمٌ | Idgām bilā gunnah, Mad arid lissukūn | Tanwin dammah bertemu huruf ra'; Setelah mad huruf hidup diwakafkan |
Asbabun Nuzul QS Al-Baqarah/2:143
Di dalam kitab Mausu'at al-Hafidz Ibn Hajar dijelaskan bahwa asbabun nuzul QS Al-Baqarah/2:143 berdasarkan keterangan dari Muqatil adalah; bahwa ada sekelompok orang Yahudi di Madinah antara lain Mirhab, Rabi'ah, dan Rafi' yang berpendapat di hadapan sahabat Mu'adz bin Jabal. Mereka berpendapat bahwa berpalingnya Rasulullah menghadap kiblat dari semula kiblat Baitul Muqaddas (di Indonesia lebih sering disebut Baitul Maqdis) di Palestina bergeser ke kiblat Ka'bah di Makkah adalah karena dengkinya Nabi Muhammad saw.
Menurut mereka, nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw., semuanya menjadikan Masjidil Aqsa sebagai kiblat karena letaknya yang tepat. Atas kejadian tersebut, lalu turunlah QS Al-Baqarah/2:143. Melalui ayat ini, Allah Swt. bermaksud memberitahukan kepada umat manusia bahwa perubahan kiblat umat Islam dari Baitul Maqdis ke kiblat Ibrahim yakni Ka'bah adalah karena alasan terbaik. Kata 'wasath' di sini adalah pilihan yang terbaik.
Ada pula yang mendasarkan asbabunuzul QS Al-Baqarah/2:143 ini berdasarkan riwayat Abu Said al-Khudri yang langsung bersumber dari Rasulullah Saw., beliau bersabda: "Nabi Nuh kelak dipanggil di hari kiamat, maka ditanyakan kepadanya, 'Apakah engkau telah menyampaikan (risalahmu)?' Nuh menjawab, 'Ya.' Lalu kaumnya dipanggil dan dikatakan kepada mereka, 'Apakah dia telah menyampaikannya kepada kalian?' Maka mereka menjawab, 'Kami tidak kedatangan seorang pemberi peringatan pun dan tidak ada seorang pun yang datang kepada kami. Lalu ditanyakan kepada Nuh, 'Siapakah yang bersaksi untukmu?' Nuh menjawab, 'Muhammad dan umatnya.' Abu Sa'id mengatakan bahwa yang demikian itu adalah firman-Nya, 'Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) umat yang adil' (al-Baqarah: 143), al-wasat artinya adil..." (HR Al-Bukhari, Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah).
Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu al-Aswad, katanya, "Aku pernah datang di Madinah dan di sana sedang terjangkit penyakit yang menyerang banyak orang... Ketika ada jenazah yang dipuji dengan kebaikan, Umar berkata, 'Pasti.' ... 'Orang Muslim mana pun yang diberikan kesaksian oleh empat orang bahwa ia baik, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga...' Beliau menjawab, 'Ya, meski hanya tiga orang... Juga dua orang? Ya, termasuk dua orang. Dan kemudian kami tidak menanyakan tentang satu orang.'" (HR Ahmad, Al-Bukhari, At-Tirmidzi, dan An-Nasa'i).
10 Karakteristik Taujihat Islam Wasathiyah
Hadis tentang Moderasi dalam Beragama
Dalam literatur hadis, kata wasat hampir tidak ditemukan. Hanya saja, kata yang digunakan dalam padanan maknanya, yakni al-qaşd yang bermakna al-tawassut dan al-i'tidāl. Di antaranya hadis yang menggunakan kata al-qaşd ialah hadis yang diriwayatkan dalam Şahih Muslim tentang sahabat Jabir bin Samurah perihal pelaksanaan khutbah Nabi pada hari Jumat:
عَنْ جَابِرِ ابْنِ سَمُوْرَةَ ، قَالَ : كُنْتُ أُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَوَاتِ ، فَكَانَتْ صَلَاتُهُ قَصْدًا ، وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا
"Dari Jabir bin Samurah berkata, aku telah shalat bersama Nabi Saw., berkali-kali, dan (aku dapati) shalatnya dalam pertengahan, khutbahnya juga pertengahan." (HR Muslim)
Dalam kata wasatiyyah terdapat beberapa prinsip:
- Al-Khairiyyah: Memiliki arti terbaik atau terpilih (QS Ali Imran/3:110). Umat Islam merupakan umat terbaik dan terpilih yang seyogiyanya membawa nilai kedamaian dan kelembutan.
- Al-'Adalah: Yakni adil. Dalam wasat (al-qaşd) nilai keadilan mencakup segalanya baik dalam hal ketauhidan maupun kemasyarakatan.
- At-Tawāzun: Berarti keseimbangan. Islam mampu menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat.
- At-Tasāmuh: Toleran. Mengakui dan menghormati perbedaan dalam aspek keagamaan dan kehidupan lainnya.
- Al-Istiqamah: Konsistensi berada dalam "jalan yang lurus".
- Ra'fu al-Haraj: Menghilangkan kesulitan. Sesuai sabda Nabi: "Berikanlah kemudahan jangan mempersulit, berikanlah ketenangan jangan membuat gaduh."
Penerapan Moderasi Beragama dalam Kehidupan Sehari-hari
Setiap agama pasti memiliki aturan terkait dengan toleransi. Islam sebagai agama terbesar yang dianut oleh mayoritas warga Indonesia tentunya memiliki aturan-aturan yang mengacu kepada kemaslahatan umat Islam. Aturan tersebut memiliki korelasi dengan misi moderasi beragama yang menjadi landasan negara Indonesia.
Islam sendiri dalam pembentukan hukumnya memiliki lima prinsip (Maqasid Syariah) yaitu: menjaga agama (hifz al-dīn), menjaga jiwa (hifz al-nafs), menjaga akal (hifz al-aql), menjaga keturunan (hifz al-nasl), dan menjaga harta (hifz al-māl). Insiden-insiden kekerasan yang mengatasnamakan agama bertentangan dengan prinsip kemanusiaan ini dan biasanya terjadi karena pemahaman agama yang dangkal serta ketidaksiapan hidup berdampingan.
Uji Kompetensi Kuis
Uji pemahamanmu tentang materi Moderasi Beragama dengan 10 soal pilihan ganda (5 opsi a,b,c,d,e). Nilai akan dihitung otomatis.




.png)
0 komentar:
Post a Comment