Materi Pembelajaran PAI Kelas XII
Adab Bermasyarakat:
Menjalin Silaturahmi dan Menjaga Hak-Hak Tetangga
Disusun oleh: Ahmad Khoyin, S.Pd.I., M.Pd., Gr.
1. Adab Bermasyarakat dalam Islam
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri dan lepas dari orang lain. Keberadaan orang lain dalam kehidupan dibutuhkan oleh manusia guna bertahan hidup karena sifat dasarnya adalah makhluk sosial. Konsep sebagai makhluk sosial dalam Islam pun diatur sedemikian rupa sehingga antara satu dengan yang lain saling membutuhkan dan melengkapi atau dalam Islam dikenal dengan istilah at-ta'awun (tolong menolong).
Sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk menolong muslim yang lain dalam hal kebaikan dan takwa. Bahkan anjuran untuk saling tolong menolong ini termaktub dalam Al-Qur'an. Kehidupan bermasyarakat yang dijalani oleh seorang muslim tidak dapat lepas dari at-ta'awun. Bahkan bukan hanya tolong menolong, adab dalam bermasyarakat pun menjadi perhatian penting dalam Islam. Salah satunya adalah silaturahmi.
Dalam kehidupan bertetangga, bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara kita sebagai umat senantiasa bersosialisasi, berinteraksi dengan yang lainnya. Khususnya umat muslim, sudah sepantasnya kita menampilkan akhlak mulia yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw., dan para sahabat beliau. Praktik akhlak mulia terhadap sesama, tetangga dan orang-orang terdekat menjadi keharusan untuk dilakukan. Karena bersama merekalah kita semua hidup berdampingan membangun peradaban dan sejarah kehidupan. Akhlak dan adab bermasyarakat dalam kehidupan sehari-hari menjadi nilai penting. Sehingga praktik nyatanya bisa dilakukan sesuai syariat Islam.
Akhlak dalam masyarakat adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang dilakukan secara spontan tanpa pertimbangan terlebih dahulu dalam lingkungan atau kehidupan. Islam mengatur sedemikian detail mengenai hal ini, sehingga terbangun kehidupan yang harmonis dan baik, terwujud bangsa dan negara yang baldatun țayyibatun wa rabbun gafür.
2. Menjalin Silaturahmi
Dalam kehidupan bermasyarakat, akan dijumpai kegiatan silaturahmi. Silaturrahmi adalah berarti menyambung tali kasih sayang. Kegiatan silaturrahmi ini diperintahkan oleh agama Islam, baik dalam Al-Qur'an maupun hadis Nabi. Oleh karena itu, orang yang berakhlak baik biasanya senang bersilaturahmi. Karena silaturrahmi dapat menguatkan hubungan sesama.
Silaturahmi merupakan kata majemuk, dari kata şilāh dan rahīm. Kata şilāh berakar dari kata waşl yang berarti menyambung dan menghimpun. Ini berarti hanya yang putus dan terserak yang dituju oleh şilāh. Sedangkan kata rahīm berarti kasih sayang dan tempat janin. Dalam konsep ini, silaturahmi yang dimaksud adalah silaturahmi yang dilakukan berdasarkan hubungan sesama umat manusia.
Silaturahmi hendaknya dilakukan oleh seluruh umat Islam, baik yang ada kaitan hubungan nasab (keturunan) maupun persaudaraan sesama muslim (Ukhuwah Islamiyah). Bahkan kepada mereka yang non-muslim (berbeda keyakinan) pun dituntut untuk berbuat baik, saling menghormati dan menghargai. Beberapa kegiatan dalam masyarakat yang berkaitan dengan silaturahmi sebagai berikut.
a. Bertamu dan Menerima Tamu
Bertamu dan menerima tamu merupakan salah satu bentuk amalan silaturahmi yang sangat dianjurkan dalam Islam. Rasulullah Saw., bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaklah ia berbuat baik kepada tamunya." (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, memuliakan tamu dengan baik merupakan bentuk penghormatan terhadap mereka. Kedatangan dan keberadaan tamu membawa berkah dan menjadi wujud terjalinnya tali silaturahmi antar sesama.
Sebagai seorang muslim, ketika bertamu dan menerima tamu hendaknya memperhatikan adab dan aturan yang berlaku. Hal ini dimaksudkan agar keberadaan dan posisi kita terutama sebagai tamu, tidak mengganggu penerima tamu (pemilik rumah). Berikut adalah beberapa adab dalam bertamu yang penting untuk diperhatikan dan dipraktikkan:
- Meminta izin kepada pemilik rumah. Hal ini penting untuk memastikan bahwa tuan rumah tidak terganggu dan bersedia menerima kehadiran kita sebagai tamu. Bahkan Rasulullah Saw., menganjurkan untuk meminta izin sebanyak tiga kali ketika akan bertamu, jika diizinkan maka masuklah namun jika tidak maka pulanglah.
- Mengucap salam, yakni mengucapkan "Assalamu'alaikum warahmatullāhi wabarakatuh." Dalam ucapan salam, terdapat doa dari tamu dan dari penerima tamu.
- Ketuklah pintu. Lakukan aktivitas ini ketika akan bertamu ke rumah seseorang. Ketuklah pintu dengan sopan, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Saw., melalui hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Adab Al-Mufrad, yakni para sahabat ketika akan bertamu, mengetuk pintu, dan ketukannya tersebut tidak mengganggu pemilik rumah yang sedang dikunjungi.
Lanjutan Adab Bertamu & Berbicara
- Hendaknya tidak mengintip. Hal remeh yang sering dilakukan oleh orang saat bertamu adalah mengintip. Tatkala ketukan pintu tidak ada jawaban, yang dilakukan biasanya adalah mengintip di balik kaca atau jendela untuk memastikan pemilik rumah berada di tempat atau tidak. Padahal, mengintip sebaiknya tidak dilakukan karena dikhawatirkan membuat ketidaknyamanan bagi pemilik rumah.
- Memperhatikan waktu. Ketika bertamu pastikan di waktu yang tepat. Waktu-waktu yang tidak mengganggu penerima tamu. Oleh karena itu, hendaknya memperhatikan waktu berkunjung, misalnya tidak datang pada jam istirahat. Perhatikan pula durasi waktu berkunjung agar tidak terlalu lama, karena dikhawatirkan tuan rumah memiliki kegiatan lainnya selain menerima tamu.
- Dianjurkan membawa buah tangan (oleh-oleh) sebagai hadiah. Rasululullah Saw., menjelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, "Hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai."
- Berkata yang baik atau diam. Hal ini merupakan suatu prinsip penting dalam menjaga silaturahmi dan keharmonisan hubungan sosial dalam masyarakat Islam. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari ditekankan bahwa orang yang beriman harus berbicara dengan baik atau diam (dalam situasi tertentu).
Tujuh adab berbicara sesuai tuntunan syariat Islam:
- Tidak berkata buruk atau kotor;
- Tidak ada dusta dalam candaan;
- Mendahulukan yang lebih tua dalam berbicara;
- Tidak menyela pembicaraan;
- Tidak tergesa-gesa;
- Menghindari debat yang tidak bermanfaat;
- Menghindari gibah atau membicarakan kejelekan orang lain.
b. Adab pergaulan dengan lawan jenis
Manusia pasti akan bergaul baik dengan sesama jenis maupun dengan lawan jenis. Dalam bergaluh hendaknya juga menjaga adab pergaulan. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menjaga batas-batas dan etika dalam berinteraksi dengan lawan jenis, dengan tujuan mencegah terjadinya perilaku yang tidak senonoh dan menjaga kehormatan serta martabat setiap individu.
Adab pergaulan dengan lawan jenis mencakup beberapa aspek. Pertama, pentingnya berbicara dengan sopan dan tulus. Rasulullah saw., bersabda, "Sesungguhnya yang paling lengkap imanmu di antara mukmin adalah yang terbaik akhlaknya, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istrinya" (HR Tirmidzi).
Kedua, menjaga pandangan mata dan batas-batas kehormatan dirinya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam QS An-Nūr/24:30-31,
قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيْرٌ بِمَا يَصْنَعُوْنَ * وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا...
Lanjutan Adab Pergaulan Lawan Jenis
Ketiga, bersikap tulus dan menghindari perilaku yang meresahkan atau menimbulkan fitnah. Rasulullah Saw., mengingatkan bahwa setiap perbuatan membuka kejelekan atau aib harus dihindari. Keempat, menjaga batas-batas komunikasi. Hal ini bertujuan agar tidak melewati batas-batas kesopanan. Menciptakan batasan yang jelas dalam komunikasi dengan lawan jenis dapat membantu mencegah munculnya kesalahpahaman dan menjaga kehormatan masing-masing individu.
Adab bergaul laki-laki dan perempuan sesuai syariat:
- Tidak berkhalwat (berduaan dengan lawan jenis) di tempat sepi karena merupakan perilaku yang melanggar syari'at.
- Menjaga pandangan. Baik laki-laki maupun perempuan, hendaknya menjaga pandangan.
- Menjaga diri ketika berbicara. Tidak ada perkataan yang menujukkan pada tindakan asusila, saling merendahkan.
- Berbusana sopan dan menutup aurat. Hal ini berlaku umum. Gunakanlah pakaian yang menutup aurat, tidak terbuka.
c. Memenuhi Undangan Tetangga
Memenuhi undangan tetangga sangat dianjurkan, sebagai wujud menjaga silaturahmi dan memperkuat hubungan sosial di antara tetangga. Hal ini sejalan dengan ajaran agama yang menekankan pentingnya berbuat baik kepada sesama, termasuk kepada tetangga. Hubungan yang baik dengan tetangga merupakan bagian dari keimanan. Rasulullah Saw. bersabda, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaklah dia menghormati tetangganya." (HR Bukhari). Undangan dari tetangga hendaknya dijadikan sebagai kesempatan untuk mempererat ikatan sosial dan menciptakan rasa kebersamaan. Adapun adab dalam memenuhi undangan tetangga melibatkan beberapa aspek berikut.
Pertama, merespons undangan dengan penuh kehormatan dan kesopanan, memenuhinya dan tidak meremehkasn apapun yang datang dari tetangga. Hal ini sejalan dengan hadis Nabi, "Jika seseorang diantara kalian diundang, maka hendaklah dia meresponsnya." Kedua, ketika memenuhi undangan, perhatikan pakaian dan kebersihan diri. Berpakaianlah dengan layak dan menjaga kebersihan diri ketika berkumpul dengan orang lain. Rasulullah Saw., bersabda, "Allah itu indah dan menyukai keindahan."
Ketiga, bersikap tulus dan menghormati tuan rumah. Saat berkunjung, sikap tulus dan rasa syukur harus terpancar dalam perilaku. Ini mencakup memberikan perhatian kepada tuan rumah, menghargai usaha yang telah dilakukan untuk menyajikan hidangan, dan mengucapkan terima kasih secara tulus. Keempat, melibatkan diri dalam percakapan yang positif dan memberikan kontribusi positif dalam suasana. Komunikasi yang baik dan kontribusi positif dapat meningkatkan kebersamaan dan memperkuat hubungan sosial. Jika kita sedang bersama dengan orang lain dalam satu majlis, maka jangan sekali-kali kita asyik dengan aktivitas pribadi seperti bermain gadget dan sejenisnya, tetapi bangunlah silaturahmi dengan komunikasi positif, libatkan diri dalam obrolan yang bermanfaat atau apapun yang dapat mempererat tali silaturahmi antar sesama.
Dengan memahami dan mengamalkan adab memenuhi undangan tetangga, kalian dapat membentuk lingkungan sosial yang harmonis dan penuh kasih sayang. Adab ini bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai peluang untuk saling berbagi kebahagiaan dan mempererat hubungan sosial dalam masyarakat.
3. Menjaga hak-hak tetangga
Sebagai peserta didik, selain mengikuti proses pembelajaran di sekolah maupun di luar lingkungan sekolah, kalian juga belajar tentang nilai-nilai kehidupan yang dipraktikan di masyarakat kelak. Selain sebagai peserta didik, kalian juga menjadi warga masyarakat.
Di lingkungan masyarakat inilah kalian belajar sekaligus mempraktikkan apa yang telah dipelajari. Sebagai warga masyarakat, kalian akan bertemu dan berinteraksi dengan ragam individu, dengan latar belakang yang bermacam-macam, dimana kalian hidup secara berdampingan dan bersama-sama.
Setiap warga masyarakat memiliki hak dan kewajiban yang melekat. Hak dan kewajiban ini bersifat kemanusiaan dan berlaku universal. Misalnya, kewajiban untuk saling menghormati dan saling menghargai, kewajiban untuk berbuat baik dan peduli kepada sesama, kewajiban untuk saling menolong dalam kebaikan dan sebagainya. Jika saat menjadi seorang pelajar kalian mempelajari materi tersebut hanya sebatas konseptual belaka, maka di lingkungan masyarakat kalian akan benar-benar belajar nilai-nilai tersebut dengan cara mempraktikkannya dalam tingkah laku kehidupan sehari-hari.
9 (Sembilan) hak tetangga menurut Syekh Hafidz Hasan Mas'udi:
- Memberi salam terlebih dahulu kepadanya;
- Membalas kebaikannya;
- Menjenguknya ketika sakit;
- Memberikan ucapan selamat ketika mendapatkan kebahagiaan;
- Turut berduka cita jika dia tertimpa musibah;
- Tidak memandang istri, anak perempuan, dan pembantu perempuannya;
- Menghindari sesuatu yang tidak membuatnya bahagia;
- Menyambut tetangga dengan wajah berseri-seri dan penuh hormat; dan
- Memberikan hak-haknya yang bersifat materi
Lanjutan Hak Tetangga & Hikmah
Tahukah kalian siapa itu tetangga? Ya, tetangga adalah mereka yang hidup dan dekat dengan tempat tinggal kalian. Keberadaannya sangat penting, karena tanpa mereka, kalian akan hidup sendiri dan kesepian. Jika ditimpa musibah, maka tetangga terdekatlah yang akan membantu. Jika sedang berada dalam kesulitan, maka kepada tetangga terdekatlah akan meminta pertolongan. Jika mendapatkan rezeki melimpah, maka dengan tetangga terdekat pula berbagi kebahagiaan.
Allah Swt., memerintahkan untuk senantiasa berbuat baik kepada tetangga, hal ini sebagaimana disebutkan dalam QS An-Nisa'/4:36 berikut ini:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسْكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًا
Ayat di atas secara eksplisit menyebutkan hak-hak tetangga dan menempatkannya di antara hak-hak orang yang harus dihormati dna dipenuhi. Pemenuhan hak atas tetangga, mencakup tetangga yang dekat dan jauh. Dengan demikian, pemenuhan hak atas tetangga adalah bagian integral dari praktik keagamaan Islam. Bukankah bersama tetangga kita senantiasa menjalani dan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari, maka memenuhi hak-hak mereka adalah keharusan agar tercipta kehidupan yang rukun dan harmonis.
4. Hikmah & Profil Pelajar Pancasila
Terdapat banyak hikmah yang dapat dipetik dari menjalin silaturrahmi, menjalin hubungan baik dengan tetangga, di antaranya adalah sebagai berikut: (a) terbangunnya kebersamaan dengan sesama warga masyarakat, (b) mengurangnya ketegangan dan konflik, (c) pertukaran ilmu dan pengalaman, (d) penguatan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan, (e) terciptanya lingkungan yang aman, nyaman dan damai, (f) menumbuhkan rasa kebersamaan dan gotong-royong, dan (g) membentuk etika sosial dan kepedulian.
H. Penerapan Nilai-Nilai Moderasi Beragama dan Profil Pelajar Pancasila
Setelah mempelajari materi tentang adab bermasyarakat, maka kalian diharapkan dapat menerapkan nilai-nilai karakter berikut dalam kehidupan sehari-hari dengan baik dan konsisten.
| No | Butir Perilaku | Nilai Karakter |
|---|---|---|
| 1 | Gemar membaca dan mengkaji Al-Qur'an dan hadist dalam kehidupan sehari-hari. | Beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt.. |
| 2 | Tolong menolong dan peduli kepada sesama. | Gotong royong, peduli. |
| 3 | Mengucapkan dan menjawab salam. | Toleransi, kemanusiaan. |
| 4 | Memenuhi hak dan kewajiban sebagai warga negara yang baik. | Berkebhinnekaan global. |
| 5 | Menjalin silaturahmi dengan tetangga. | Berakhlak mulia. |
Related Articles
If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.




.png)
0 komentar:
Post a Comment