Saturday, April 20, 2013

QS. Al – alaq ayat 1 – 5, Ar – Rahman ayat 2 – 3, Al – Qalam ayat 1


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Tafsir QS. Al – Alaq ayat 1 – 5
1.      QS. Al – Alaq ayat 1 - 5
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ
2.      Terjemahan
1)      Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2)      Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3)      Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4)      Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5)      Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

3.      Mufrodat
Arti Mufradat surat al-‘Alaq ayat 1-5
اِقْرَاءْ
Bacalah
عَلَقٍ
segumpal darah
بِاسْمِ
dengan(menyebut) nama
اْلاَكْرَمُ
Maha Mulia/Pemurah
رَبِّكَ
Tuhanmu
عَلَّمَ
mengajarkan
الَّذِيْ
Yang
بِاْلقَلَمِ
dengan (perantara) kalam
خَلَقَ
telah menciptakan
مَا
apa
الاِنْسَانَ
Manusia
لمَ ْ
yang tidak
مِنْ
Dari
يَعْلَمْ
dia ketahui

QS. Al – Alaq ayat 1
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1)

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
       
a)      Tafsir ayat 1 :
Kata (اقْرَأْ ) terambil dari kata kerja (قَرَأ  ) yang pada mulanya berarti menghimpun. Apabila anda merangkai huruf atau kata kemudian anda mengucapkan rangkaian tersebut maka anda telah menghimpunnya yakni membacanya. Dengan demikian realisasi perintah tersebut tidak mengharuskan adanya suatu teks tertulis sebagai objek bacaan, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengan oleh orang lain. Karenanya, dalam kamus ditemukan aneka ragam arti dari kata tersebut. Antara lain : menyampaikan, menelaan, membaca, mendalami, meneliti, mengaetahui ciri-ciri sesuatu dan sebagainya, yang kesemuanya bermula dari arti menghimpun.
Ayat di atas tidak menyebutkan objek bacaan  dan jibril AS. ketika itu tidak juga membaca suatu teks tertulis, dan karena itu dalam satu riwayat dinyatakan bahwa Nabi S.A.W. bertanya : ( مَا أَقْرَأُ  ) apa yang harus saya baca?
b)      Penjelasan ayat 1:
Beraneka ragam pendapat ahli tafsir tentang objek bacaan yang dimaksud, ada yang berpendapat wahyu (al-Qur’an) sehingga perintah itu dalam arti : “bacalah wahyu-wahyu (al-Qur’an)” ketika dia turun nanti. Ada juga yang berpendapat bahwa objeknya adalah ismi robbika sambil menilai huruf ba’ yang menyertai kata kata ismi adalah sisipan sehingga ia berarti bacalah nama tuhanmu atau berdzikirlah. Tapi jika demikian mengapa Nabi S.A.W.menjawab “ saya tidak dapat membaca “ seandainya yang dimaksud perintah berdzikir tentu beliau tidak menjawab demikian karena jauh sebelum datang wahyu beliau senantiasa melakukannya.
Muhammad Abduh memahami peritah membaca di sini bukan sebagai beban tugas yang harus dilaksanakan (amr taklif) sehingga membutuhkan objek, tetapi ia adalah amar takwini yang mewujudkan kemampuan membaca secara actual pada diri pribadi Nabi Muhammad S.A.W. pendapat ini dihadang oleh kenyataan bahwa setelah turunnya perintah ini pun Nabi S.A.W. masih tetap dinamai oleh al-Qur’an sebagai seorang Ummy (tidak pandai membaca dan menulis), di sisi lain jawaban Nabi S.A.W. kepada malaikat jibril ketika itu, tidak mendukung pemahaman itu.
Huruf ( ب ) pada kata (بِاسْمِ ) ada juga yang memahaminya sebagai pernyertaan atau mulabasah, seingga dengan demikian ayat tersebut berarti “bacalah disertai dengan nama Tuhanmu”.
Sementara ulama memahami kalimat bismi rabbika bukan dalam pengertian harfiahnya, sudah menjadi kebiasaan masyarakat sejak masa jahiliah mengaitkan suatu pekerjaan dengan nama sesuatu yang mereka agungkan. Itu memberi kesan yang baik atau katakanlah “berkat” terhadap epkerjaan tersebut juga untuk menunjukkan bahwa pekerjaan tadi dilakukan semata-mata karena “dia” yang namanya disebutkan tadi. Dahulu, misalnya sebelum turunnya al-Qur’an, kaum musyrikin sering berkata “bismi al-lata” dengan maksud bahwa apa yang mereka lakukan tidak kecuali demi tuhan berhala al-lata, dan bahwa mereka mengharapkan anugrah dan berkah” dari berhala tersebut.
Mengaitkan pekerjaan membaca dengan nam Allah mengantarkan pelakunya untuk tidak melakukannya kecuali karena Allah, dan hal ini akan mengahsilkan keabadian, karena hanya Allah yang kekal abadi dan hanya aktifitas yang dilakukan secara ikhlas yang akan diterimanya, tanpa keikhlasan semua aktifitas akan berakhir dengan kegagalan dan kepunahan (baca Q.S. al-Furqon 25).
Menurut Syaikh al-Maroghi, اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ adalah jadilah kamu orang yang bisa membaca dengan kekuasaan Allah Tuhan penciptamu dan menginginkan kamu bisa membaca walaupun sebelumnya tidak, yang sesungguhnya saat itu Nabi S.A.W. tidak bisa baca tulis, dan telah datang perintah Ketuhanan bahwa Nabi S.A.W. hendaknya bisa membaca walaupun tidak bisa menulis dan akan diturunkan kepadanya al-Quran yang akan dia baca walaupun dia tidak menulisnya. Ringkasnya adalah Allah yang telah menjadikan alam semesta mampu menjadikan Nabi S.A.W. bisa membaca walaupun tidak didahului dengan belajar.
c)      Kesimpulan ayat 3
Menurut kaidah kebasaan menyatakan apabila ada suatu kata kerja yang membutuhkan objek tetapi tidak disebutkan objeknya, maka objek yang dimaksud bersifat umum, mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut. Oleh karena itu bahwa kata iqro’ digunakan dalam arti membaca, menelaah, menyampaikan dan sebagainya, dan objeknya bersifat umum, maka objek kata tersebut segala yang dapat terjangkau baik ia merupakan bacaan suci yang bersumber dari Tuhan maupun bukan, baik ia menyangkut ayat yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Al hasil perintah iqro’mencakup telaah terhadap alam raya, masyarakat dan diri sendiri, serta bacaan tertulis baik suci maupun tidak. Ayat ini menegaskan supaya kita bisa membaca.

QS. Al – Alaq ayat 2

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2)
 Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
a)      Tafsir Ayat 2
Kata الْإِنْسَانَ terambil dari akar kata أنس, jinak dan harmonis atau dari kata نسي yang berarti lupa, ada juga yang berpendapatberasal dari kata نوس yakni gerak atau dinamika.
Makna di atas paling tidak memberikan gambaran sepintas tentang potensi atau sifat makhluk tersebut, yakni bahwa memiliki sifat lupa, dan kemampuan bergerak atau melahirkan dinamika.
Ia juga adalah makhluk yang selalu atau sewajarnya melahirkan rasa senang, harmonisme dan kebahagiaan kepada pihak lain.
b)     Penjelasan
Kata insan menggambarkan manusia dengan berbagai keragaman sifatnya, kata ini berbeda dengan kata basyar yang juga diterjemahkan dengan manusia, tetapi maknanya lebih banyak mengacu kepada manusia dengan segi fisik serta nalurinya yang tidak berbeda antara seseorang manusia dengan mansia lain.
Manusia adalah makhluk pertama yang disebut Allah dalam al-Qur’an melalui wahyu pertama, bukan saja karena ia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, atau segala sesuatu dalam alam raya ini diciptakan dan ditundukkan Allah demi kepentingannya, tetapi juga karena kitab suci al-Qur’an ditujukan kepada manusia guna menjadi pelita kehidupannya.
Salah satu cara yang ditempuh oleh al-Qur’an untuk menghantar manusia menghayati pentunjuk Allah adalah memperkenalkan jati dirinya antara lain dengan menguraikan proses kejadiannya. Ayat ke 2 surat iqro’ menguraikan secara sangat singkat hal tersebut.
Kata ‘alaq dalam kamus bahasa arab digunakan dalam arti segumpal darah, juga dalam arti cacing yang terdapat di dalam air bila diminum oleh binatang maka ia tersangkut di kerongkonganya. Banyak ulama masa lampau memahami ayat di atas dalam pengertian pertama. Tetapi ada juga yang memahaminya dalam sesuatu yang tergantung di dinding rahim. Ini karena para pakar embriolog menyatakan bahwa setelah terjadinya pertemuan antara seperma dan indung telur ia berproses dan membelah menjadi dua, kemudian empat, kemudian delapan demikian seterusnya sambil bergerak menuju ke kantong kehamilan dan melekat bertempat serta masuk ke dinding rahim.
c)      Kesimpulan
Dari ayat 2 ini dapat ditarik kesimpulan bahwa salah satu yang ditempuh oleh al-Qur’an untuk mengantar manusia menghayati petunjuk Allah adalah memperkenalkan jati dirinya dengan menguraikan proses kejadiannya, karena kata ‘alaq bisa juga dipahami sebagai makhluk sosoial yang tidak dapat hidup sendiri tetapi selalu bergantung pada selainnya, ini serupa dengan firman Allah خُلِقَ الْإِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ  [الأنبياء/37] (Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.)

QS. Al – Alaq ayat  3

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3)
 Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
a)      Tafsir Ayat 3
Kata الْأَكْرَمُ biasa diterjemahkan dengan yang maha atau paling pemurah atau semulia-mulia. Kata ini terambil dari kata كرم yang antara lain berarti memberikan dengan mudah dan tanpa pamrih, bernilai tinggi, terhormat, mulia, setia dan sifat kebangsawanan.
b)     Penjelasan
Dalam al-Qur’an ditemukan kata karim terulang sebanyak 27 kali. Tidak kurang dari 13 subjek yang disifati dengan kata tersebut, yang tentu saja berbeda-beda maknanya dan karena itu pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa kata ini digunakan untuk menggambarkan sifat terpuji yang sesuai dengan objek yang disifatinya. Ucapan yang karim adalah ucapan yang baik, indah terdengar, benar susunan dan kandungannya, mudah dipahami cara menggambarkan segala sesuatu yang ingin disampaikan oleh pembicara. Sedang rizki yang karim adalah yang memuaskan, bermanfaat serta halal.
Allah menyandang sifat karim menurut imam al-Ghozali sifat ini menunjuk kepadanya yang mengandung makna antara lain bahwa : Dia yang bila berjanji menepati janjinya, bila memberi melampoi batas memberi. Dia yang tidak rela bila ada kebutuhan yang dimohonkan kepada selain-Nya. Dia yang bila atau kecil hati, menegur tanpa berlebih, tidak mengabaikan siapapun yang menuju yang berlindung kepada-Nya, dan tidak membutuhkan sarana atau perantara.
Ibn al-Arabi menyebut 16 makna dari sifat Allah ini antara lain : yang disebut oleh al-Ghozali di atas, dan juga “ Dia yang bergembira dengan diterima anugrahnya, serta yang memberi sambil memuji yang diberinya, Dia yang memberi siapa yang mendurhakainya, bahkan memberi sebelum diminta dan lain-lain.
Kata al-Karim yang menyifati Allah dalam al-Qur’an kesemuanya menunjuk kepada-Nya dengan kata Robb bahkan demikian juga kata akrom sebagaimana terbaca di atas. Penyifatan kata Robb dan Karim menunjukkan bahwa kata karom atau anugrah kemurahannya dalam berbagai aspek, dikaitkan dengan rububiyahnya, yakni Pendidikan, Pemeliharaan dan Perbaikan makhluknya, sehingga anugrah tersebut dalam kadar dan waktunya selalu bebarengan serta bertujuan perbaikan dan pemeliharaan.
Sebagai makhluk, kita dapat menjangkau betapa besar karom Allah S.W.T. karena keterbatasan kita dihadapannya. Namun demikian sebagian darinya dapat diungkapkan sebagai berikut : “ bacalah wahai Muhammad, tuhanmu akan menganugrahkan dengan sifat kemurahannya pengetahuan tentang apa yang tidak engkau ketahui. Bacalah dan ulangi bacaan tersebut walaupun objek bacaannya sama, niscaya tuhanmu kan memberikan pandangan serta pengertian baru yang tadinya belum engkau belum peroleh pada bacaan yang sama dalam objek tersebut.” “Bacalah dan ulangi bacaan, tuhanmu kan memberi manfaat kepadamu, manfaat yang tidak terhingga karena dia akrom, memiliki segala macam kesempurnaan.”
c)      Kesimpulan
Disini kita dapat melihat perbedaan antara perintah membaca pada ayat pertama dan ke tiga, yakni yang pertama menjelaskan syarat yang harus dipenuhi seseorang ketika membaca (dalam segala pengertian) yaitu membaca demi karena Allah, sedang perintah yang ke dua menggambarkan manfaat yang diperoleh dari bacaan bahkan pengulangan bacaan tersebut.
Dalam ayat ke tiga ini Allah menjanjikan bahwa pada saat seseorang membaca dengan ikhlas karena Allah maka Allah akan menganugrahkan kepadanya ilmu pengetahuan, pemahaman, wawasan baru walaupun yang dibacanya itu-itu juga. Apa yang dijanjikan ini terbukti sangat jelas. Kegiatan “membaca” ayat al-Qur’an menimbulkan penafsiran baru atau pengembangan dari pendapat yang telah ada. Demikian juga kegiatan membaca alam raya ini telah menimbulkan penemuan baru yang membuka rahasia alam, walaupun objek bacaanya itu-itu juga. Ayat al-Qur’an yang dibaca oleh generasi terdahulu dan alam raya yang mereka huni adalah sama-tidak berbeda, namun pemahaman mereka serta penemuan rahasianya terus berkembang.
QS. Al – Alaq ayat  4 - 5

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5) 

4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
a)      Tafsir Ayat 4 -5
Kata الْقَلَمِ terambil dari kata kerja قلم yang berarti memotong ujung sesuatu. Memotong ujung kutu disebutتقليم , tombak yang dipotong ujungnya sehingga meruncing dinamai مقالم.
b)     Penjelasan
Kata qolam disini dapat berarti hasil dan penggunaan alam tersebut, yakni tulisan, ini karena bahasa, sering kali menggunkan kata yang berarti alat atau penyebab untuk menunjuk akibat atau hasil dari penyebab atau penggunaan alat tersebut, misalnya, jika seseorang berkata “ saya hawatir hujan” maka yang dimasud dengan kata hujan adalah basah atau sakit, hujan adalah penyebab semata.
Makna di atas dikuatkan oleh fimran Allah dalam surat al-Qolam (68):1, yakni firmannya “ Nuun, demi qolam dan apa yang mereka tulis”. Apalagi disebutkan dalam sekian banyak riwayat bahwa awal surat al-Qolam turuns setelah akhir ayat ke lima surat al-‘Alaq. Ini berarti dari segi masa turunnya ke dual kata qolam tersebut berkaitan erat, bahwan bersambung walaupun urutan penulisannya dalam mushaf tidak demikain.
Pada ke dua ayat di atas terdapat apa yang dinamai ikhtiba’ yang maksudnya adalah tidak disebutkan sesuatu keterangan, yang sewajarnya ada pada dua susunan kalimat yang bergandengan, karena keterangan yang dimaksud telah disebut pada kalimat yang lain. Pada ayat 4 kata manusia tidak disebut karena telah disebut pada ayat lima, dan pada ayat 5 kalimat tanpa pena tidak disebut karena pada ayat empat telah disyaratkan ma’na itu dengan sebutkan pena. Dengan demikian kedua ayat di atas dapat berarti “ Dia(Allah) mengajarkan dengan pena (tulisan) (hal-hal yang telah diketahui sebelumya). Dia mengajarkan manusia (tanpa pena) apa yang belum diketahui sebelumnya. Kalimat “ yang telah diketahui sebelumnya disisipkan karena isyarat pada susunan kedua yaitu yang belum atau tidak diketahui sebelumnya”. Sedang kalimat “tanpa pena” ditambahkan karena ada kata “ dengan pena” dalam susunan pertama. Yang dimaksud dengan ungkapan “ telah diketahui sebelumnya adalah khozanah pengetahuan sebelumnya dalam bentuk tulisan.
c)      Kesimpulan
Dari uraian di atas kita dapat menyimpulkan bahwa kedua uraian di atas menjelaskan dua cara yang ditempuh Allah S.W.T. dalam mengajar manusia. Pertama melalui pena atau tulisan yang harus dibaca oleh manusia dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa alat.
Pada awal surat ini Allah telah mengenalkan diri sebagai yang maha kuasa, maha mengetahui dan maha pemurah. Pengetahuan-Nya melimputi segala sesuatu, sedangkan karom atau kemurahan-Nya tidak terbatas, sehingga dia berkuasa dan berkenan untuk mengajar manusia dengan atau tanpa pena.
Wahyu Ilahi yang diterima oleh manusia agung dan suci jiwanya adalah tingkat tertinggi dari bentuk pengajarannya. Tanpa alat dan tanpa usaha manusia. Nabi Muhammad S.A.W. dijanjikan oleh Allah dalam wahyunya yang pertama untuk termasuk dalam kelompok tersebut.

4.      Isi Kandungan QS. Al – alaq ayat 1 – 5
1)      Ayat 1
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
Ayat pertama ini mengandung arti bahwa :
a.       Ummat Islam seharusnya pandai baca tulis
b.      Ummat Islam harus antusias membaca dan meneliti, yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan
c.       Perintah membaca ini meliputi yang tersurat (Al-Qur’an) dan yang tersirat (Alam semesta)
2)      Ayat 2
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Manusia disebut khusus dalam ayat ini, karena manusia manusia diberi kedudukan istimewa, dengan tubuh, panca indera, akal dan hati yang sempurna. Alaqah adalah zygote yang sudah menempel di rahim ibu, yang secara phisik tidak ada artinya dan lemah dan labil karena sewaktu-waktu dapat gugur dari rahim ibunya.
3)      Ayat 3
Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
Perintah membaca ini untuk memantapkan bahwa pengetahuan yang dibaca, minimal satu objek dibaca dua kali, inipun diakui oleh para psikologi membaca.
4)      Ayat 4
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
Maksudnya : Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca. Allah menciptakan alam untuk dijadikan pena, dan memberikan kemampuan kepada manusia untuk menggunakan pena tersebut.
5)      Ayat 5
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Dengan adanya baca tulis manusia berkembang ilmu pengetahunnya, agar dapat bermanfaat bagi generasi berikutnya .
5.      Penutup
Secara global Lima ayat yang telah lewat menunjukkan keutamaan membaca, menulis dan ilmu.
B.     Tafsir QS.  Ar – Rahman ayat 2 – 3
1.      QS. Ar – Rahman ayat 2 – 3
zN¯=tæ tb#uäöà)ø9$# ÇËÈ šYn=y{ z`»|¡SM}$# ÇÌÈ
2.     Terjemah
2.  Yang Telah mengajarkan Al Quran.
3.  Dia menciptakan manusia.

3.      Tafsir Mufrodat
N¯=tæ
Mengajarkan
Yn=y{
Menciptakan
b#uäöà)ø9$#
Al- Quran
`»|¡SM}$#
Manusia

QS. Ar –Rahman ayat 2
zN¯=tæ tb#uäöà)ø9$# ÇËÈ
“yang mengajarkan Al-qur’an” (ayat 2)

Tafsir ayat 2 :
            Inilah salah satu dari rahman, atau kasih sayang tuhan kepada manusia, yaitu diajarkan kepada manusia itu al-qur’an, yaitu wahyu ilahi yang diwahyukan kepada nabi-Nya Muhammad SAW. Yang dengan sebab Al-qur’an itu manusia dikeluarkan dari gelap gulita kepada terang benderang dan dibawa kepada jalan yang lurus. Maka datangnya pelajaran Al-qur’an kepada manusia itu yakni sebagai penggenapan kasih Tuhan. Rahmat ilahi yang utama adalah ilmu pengetahuan yang dianugrahkan Allah kepada kita manusia. Mengetahui itu adalah suatu kebahagiaan, apalagi kalau yang diketahui itu adalah Al-Qur’an.

QS. Ar – Rahman ayat 3
šYn=y{ z`»|¡SM}$# ÇÌÈ
yang menciptakan manusia” (ayat 3)
Tafsir ayat 3
            Dia telah menciptakan manusia dan mengajarinya mengungkapkan apa yang terlintas dalam hatinya dan terbetik dalam sanubarinya. Sekiranya tidak demikian, maka Nabi Muhammad Saw takkan dapat mengajarkan al-qur’an kepada umatnya. Penciptaan manusia pun adalah satu diantara tanda Rahman Tuhan kepada alam ini. Sebab diantara begitu banyak makhluk Ilahi didalam alam, manusia lah satu-satunya makhluk yang paling mulia dan paling baik bentuknya. Sebagaimana firman Allah:[1][3]
ôs)s9 $uZø)n=y{ z`»|¡SM}$# þÎû Ç`|¡ômr& 5OƒÈqø)s? ÇÍÈ  
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .”
Maka terbentanglah alam luas ini dengan seisinya, sehingga manusia dapat tinggal dan berdiam diatasnya. Dan Allah menambah Rahmat-Nya kepada manusia dengan memberikan akal serta fikiran kepada mereka. Dengan akal dan fikiran tersebut manusia dapat menyesuaikan dirinya dengan alam. Hujan turun dan air mengalir, lalu manusia membuat sawah. Jarak diantara satu bagian dunia dengan bagian dunia yang lain amat jauh.bahkan seperlima dunia adalah tanah daratan, sedang empat perlima lautan yang luas.
Manusia dengan akal budinya menembus jarak dan perpisahan yang jauh tadi membuat bahtera dan kapal untuk menghubungkannya satu dengan yang lain. Di antara begitu banyak makhluk Tuhan di dalam dunia ini, manusialah yang dikaruniai perkembangan akal dan fikiran, sehingga  timbullah pepatah terkenal, bahwasanya tabiat manusia itu ialah hidup yang lebih maju.
4.      Isi Kandungan Surat Ar – Rahman ayat 1 – 2
a.       Manusia diberi pelajaran Al – Quran, lewat Wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad. Agar dengan Al – Quran manusia bisa mengetahui jalan yang benar.
b.      Allah menciptakan manusia dan mengajarinya mengungkapkan apa yang terlintas dalam hatinya dan terbetik dalam sanubarinya.
5.      Penutup
Secara Global surat Ar – Rahman ayat 2 -3 menganduna sifat Allah yang maha Rahman,yaitu dengan diajarkannya Al – Qur’an dan diciptakannya manusia.


C.    Tafsir QS. Al – Qalam ayat 1
1.      QS. Al – Qalam ayat 1
úc 4 ÉOn=s)ø9$#ur $tBur tbrãäÜó¡o ÇÊÈ
2.      Terjemahan
Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,

3.      Tafsir Mufrodat
c
Nun
tbrãäÜó¡o
Tulis
On=s)ø9$#u
Kalam



QS. Al – Qalam ayat 1
úc 4 ÉOn=s)ø9$#ur $tBur tbrãäÜó¡o ÇÊÈ
Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,
Tafsir ayat 1
(Nun) adalah salah satu dari huruf hijaiyah, hanya Allah lah yang mengetahui arti dan maksudnya (demi qalam) yang dipakai untuk menulis nasib semua makhluk di Lohmahfuz (dan apa yang mereka tulis) apa yang ditulis oleh para malaikat berupa kebaikan dan kesalehan.

4.      Isi Kandungan QS. Al –Qalam ayat 1.
Bahwa semua nasib makhluk Allah itu sudah tertulis di lohmahfuz, dan hanya Allah yang mengetahuinya.
5.      Penutup
Secara Global ayat 1 ini memberi pengertian bahwa segala sesuatu  yang ada pada makhluk telah diatur Allah..



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Isi Kandungan QS. Al – alaq ayat 1 – 5
a.       Ummat Islam seharusnya pandai baca tulis
b.      Ummat Islam harus antusias membaca dan meneliti, yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan
c.       Perintah membaca ini meliputi yang tersurat (Al-Qur’an) dan yang tersirat (Alam semesta)
d.      Manusia disebut khusus dalam ayat ini, karena manusia manusia diberi kedudukan istimewa, dengan tubuh, panca indera, akal dan hati yang sempurna. Alaqah adalah zygote yang sudah menempel di rahim ibu, yang secara phisik tidak ada artinya dan lemah dan labil karena sewaktu-waktu dapat gugur dari rahim ibunya.
e.       Perintah membaca untuk memantapkan bahwa pengetahuan yang dibaca, minimal satu objek dibaca dua kali, inipun diakui oleh para psikologi membaca.
f.       Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca. Allah menciptakan alam untuk dijadikan pena, dan memberikan kemampuan kepada manusia untuk menggunakan pena tersebut.
g.      Dengan adanya baca tulis manusia berkembang ilmu pengetahunnya, agar dapat bermanfaat bagi generasi berikutnya .
2.      Isi Kandungan Surat Ar – Rahman ayat 2 – 3
a.       Manusia diberi pelajaran Al – Quran, lewat Wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad. Agar dengan Al – Quran manusia bisa mengetahui jalan yang benar.
b.      Allah menciptakan manusia dan mengajarinya mengungkapkan apa yang terlintas dalam hatinya dan terbetik dalam sanubarinya.
3.      Isi Kandungan Surat Al – Qalam ayat 1
Bahwa semua nasib makhluk Allah itu sudah tertulis di lohmahfuz, dan hanya Allah yang mengetahuinya.
B.     Saran
Dalam penulisan makalah ini penulis berharap para membaca faham tentang Surat yang dibahas penulis dan kemudian bisa memberikan saran dan kritik yang membangun untuk penulis.




Ditulis Oleh : Ahmad khoyin Hari: 4/20/2013 05:49:00 AM Kategori:

0 komentar:

Post a Comment

 

Labels

Agama (33) Aswaja (9) Belajar (4) Biografi (4) Blog (22) Bola (8) Buku (14) Catatan (52) cerpen (2) Doa (10) English (3) Facebook (2) Humor (1) IKLAN (2) Ilmu Nahwu (5) Karya Tulis Ilmiah (3) Kesehatan (2) Komputer (24) Link (1) Makalah (18) Manusia dan agama (3) Motivasi (32) MS. OFFICE (2) Novel (3) Profil (1) Puasa (1) Puisi (11) Puisi Karya Sendiri (4) Puisi Karya Tokoh (5) Pulsa (7) RPP (12) Sejarah Islam (4) Sholat (4) Silabus (1) Skripsi (6) Surat (1) Template (1) TOEFL (2) Toko Online (2) TV (1)

Followers

AHMAD KHOYIN. Powered by Blogger.